Kemiskinan Ekstrem Bukan Sekadar Kekurangan Harta, Melainkan Hati Yang Enggan Berbagi
--
Oleh: Rudi Salam, S,Kep, Ns, M.Kep. (Wakil Ketua IV Baznas Kab. Gowa)
DISWAY, SULSEL - Kemiskinan ekstrem kerap dipahami semata-mata sebagai ketiadaan materi, keterbatasan penghasilan, atau minimnya akses terhadap kebutuhan dasar. Namun, pandangan tersebut sejatinya belum menyentuh akar persoalan yang lebih mendalam.
Kemiskinan ekstrem bukan hanya persoalan kosongnya perut, melainkan juga kekosongan hati yang enggan berbagi. Sehingga kemiskinan ekstrem dapat menjelma dalam dua wajah, kemiskinan jasmani dan kemiskinan rohani.
Kemiskinan jasmani tampak pada mereka yang hidup dalam keterbatasan, terpinggirkan oleh sistem, dan terhalang dari akses keadilan sosial. Namun, kemiskinan rohani sering kali tersembunyi di balik rumah megah, jabatan tinggi, dan rekening yang melimpah ia hadir ketika empati mengering dan kepedulian digantikan oleh egoisme.
Ditengah masyarakat yang terus bergerak menuju kemajuan ekonomi dan teknologi, masih terdapat kesenjangan sosial yang nyata. Ironisnya, kesenjangan tersebut tidak selalu disebabkan oleh keterbatasan sumber daya, melainkan oleh melemahnya nilai empati, solidaritas, dan kepedulian antar sesama. Ketika kemampuan untuk berbagi tidak diiringi dengan kemauan, maka kemiskinan moral dan sosial pun tumbuh di tengah kelimpahan materi.
Momentum refleksi diawal tahun 2026, menjadi pengingat bahwa upaya pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya melalui kebijakan pemberdayaan ekonomi dan bantuan finansial tetapi diperlukan pula penguatan nilai-nilai kemanusiaan, pendidikan karakter, dan budaya berbagi yang berakar pada empati serta tanggung jawab sosial.
Dengan menumbuhkan kesadaran untuk berbagi, masyarakat tidak hanya membantu meringankan beban sesama, tetapi juga membangun tatanan sosial yang lebih adil, harmonis, dan bermartabat. Karena pada akhirnya, kekayaan sejati tercermin dari sejauh mana seseorang mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Allah SWT berfirman: Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (QS. Adz-Dzariyat: 19)
Ayat ini menampar kesadaran bahwa seseorang tidak pernah benar-benar memberi, melainkan mengembalikan hak yang sejak awal telah Allah titipkan dalam hartanya. Maka, menahan diri untuk berbagi atau menghalangi dan menghasut orang untuk tidak berinfaq bukanlah kehati-hatian, melainkan bentuk pengingkaran amanah.
Fenomena kemiskinan ekstrem di masyarakat seharusnya menjadi cermin kolektif, sejauh mana kita telah menjadikan solidaritas sebagai laku hidup, bukan sekadar slogan. Sedekah, zakat dan infak bukan hanya instrumen ekonomi tetapi jalan penyucian jiwa cara untuk membebaskan diri dari kemiskinan batin yang paling sunyi dan berbahaya.
Oleh karena itu sekiranya seluruh lapisan masyarakat untuk memaknai ulang kemiskinan ekstrem secara lebih utuh karena realitas sosial menunjukkan ironi, bukan harta yang berkurang karena zakat dan sedekah, melainkan jiwa yang menyempit karena kikir.
Orang yang enggan berbagi sejatinya sedang memiskinkan jiwanya sendiri karena Harta yang tidak dibersihkan melalui zakat, infaq dan sedekah akan menjadi racun bagi hati dan penghalang menuju Allah. Orang yang enggan berbagi bukan hanya miskin secara moral, tetapi juga sedang berada dalam keterasingan spiritual.
Masyarakat tidak runtuh karena kurangnya kekayaan, melainkan karena hilangnya kepedulian. kemiskinan yang paling ekstrem bukanlah saat seseorang tidak memiliki apa-apa, melainkan ketika ia memiliki segalanya, namun enggan berbagi dengan sesama.
Sumber:

