DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Menancapkan Sejarah di Industri Kreatif Kota Makassar

Menancapkan Sejarah di Industri Kreatif Kota Makassar

--

Oleh: Imam Al-Ghazali

 

DISWAY, SULSEL - Di banyak kota, pembangunan sering kali diukur dari seberapa cepat gedung berdiri dan seberapa besar angka investasi tercatat. Namun di Makassar, ada upaya lain yang tumbuh lebih perlahan dan barangkali luput dari sorotan: memajukan manusia kreatif dan membangun jejaringnya. Upaya ini tidak selalu tampak gemerlap, tetapi berdenyut dalam keseharian komunitas—di ruang diskusi kecil, di kelas progresif, dan dalam percakapan-percakapan yang terbuka tentang masa depan kota Makassar.

Ekonomi kreatif, dalam konteks ini, tidak ditempatkan sebagai jawaban instan atas seluruh persoalan. Ia dipahami sebagai proses panjang yang membutuhkan kesabaran, kepercayaan, dan ruang aman untuk mencoba. Di sinilah peran ekosistem menjadi penting. Bukan hanya siapa yang paling menonjol, tetapi bagaimana yang paling rentan sekalipun tetap memiliki akses untuk belajar, berkembang, dan maju.

Makassar Creative Hub lahir dari kesadaran sederhana bahwa kota yang besar tidak bisa bertumpu pada talenta yang berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan ruang temu yang memungkinkan ide bertabrakan, kolaborasi bertumbuh, dan kegagalan ditelaah bersama. Ia hadir dengan kerendahan hati—menyadari keterbatasan, tetapi memilih untuk tetap membuka pintu selebar mungkin bagi warga kota yang mau berubah.

Di sisi lain, pelaku industri kreatif di Makassar perlu diingatkan bahwa kehadirannya tidak cukup hanya dikenali dan didata, tetapi perlu dirawat bahkan didampingi. Banyak bakat yang selama ini bekerja dalam senyap, tanpa panggung dan jejaring yang memadai. Melalui pendekatan bertahap dan berbasis proses, Makassar Creative Hub berupaya memastikan bahwa talenta Makassar tidak hanya lahir, tetapi juga memiliki jalan untuk bertahan dan beradaptasi.

Tulisan ini mencoba membaca Makassar Creative Hub bukan sebagai program prioritas Pemerintah Kota Makassar yang telah sempurna, melainkan sebagai perjalanan yang sedang berlangsung. Sebuah ikhtiar kolektif yang mungkin belum stabil, tetapi dijalani dengan optimisme dan keyakinan bahwa kota akan selalu tumbuh, jika manusianya diberi ruang dan peluang.

Makassar Creative Hub Sebagai Fisik

Di tengah denyut Kota Makassar, Makassar Creative Hub muncul dengan cara paling sederhana—memanfaatkan aset pemerintah yang menganggur, tetapi dijalani dengan kesungguhan: membuka ruang. Bukan hanya ruang fisik, tetapi juga ruang aman untuk belajar, bertemu, mencoba, dan—yang paling penting—bertumbuh bersama.

Diresmikan pada 21 Juni 2025 sebagai program prioritas Pemerintah Kota Makassar, Makassar Creative Hub sejak awal menempatkan dirinya bukan sebagai menara gading kreativitas, melainkan sebagai simpul ekosistem. Tempat yang rendah hati, terbuka, dan menyambut siapa saja yang ingin terlibat dalam perkembangan ekonomi kreatif, baik dari komunitas, akademisi, pelaku usaha, media, hingga investor dalam siklus kolaboratif hexahelix.

Secara fisik, Makassar Creative Hub Losari menyediakan fasilitas yang fungsional dan inklusif: amfiteater berkapasitas 80–100 orang, co-working space, ruang kelas, studio konten, galeri seni, collective store untuk jenama lokal, hingga kedai kopi yang menjadi ruang temu informal. Seluruh ruang ini bisa diakses gratis oleh siapapun, khususnya pelaku industri kreatif melalui mekanisme peminjaman yang dipermudah. Sepanjang 2025, ruang-ruang ini hampir setiap hari terisi kegiatan—mulai dari workshop, pertunjukan, seminar, produksi karya, rapat tertutup, hingga siaran podcast dan live streaming.

Data aktivitas tahun 2025 yang dirilis Dinas Priwisata Kota Makassar, menunjukkan bahwa 48,8% pengguna ruang adalah komunitas anak muda, disusul lembaga pendidikan dan institusi lainnya. Jenis kegiatan didominasi workshop (26,2%), podcast (16,5%), dan talkshow (11,3%). Data ini jelas mencerminkan kebutuhan kota akan ruang belajar yang terjangkau dan relevan. Makassar Creative Hub sendiri mencoba menjawab kebutuhan tersebut, sembari terus belajar membenahi tata kelola, operasional, dan fasilitasnya secara bertahap.

Meski demikian, keterbukaan ruang dan intensitas aktivitas tidak serta-merta menjamin bahwa Makassar Creative Hub telah sepenuhnya menjangkau seluruh lapisan pelaku industri kreatif di kota ini. Masih ada tantangan elitisasi yang bekerja secara halus—ketika ruang yang terbuka dan gratis lebih mudah diakses oleh mereka yang telah memiliki modal kultural, jejaring, serta keberanian untuk hadir lebih dulu.

Tidak semua warga berada dalam posisi yang setara untuk memanfaatkan ruang ini. Perbedaan latar belakang sosial, akses informasi, waktu luang, hingga ego sektoral, kerap menentukan siapa yang terlihat dan siapa yang tetap bekerja dalam senyap. Kesadaran ini menjadi pengingat bahwa inklusivitas bukan cuman soal membuka pintu, tetapi juga tentang upaya aktif untuk menjangkau, mengundang, dan mendampingi mereka yang selama ini berada di luar lingkaran ekosistem.

Talenta Kota; Denyut Baru Industri Kreatif

Hakikatnya Makassar Creative Hub lebih dari sekadar ruang, tapi ekosistem yang mencakup sarana prasarana beserta aktivitas pemajuan ekonomi kreatif. Salah satunya Talenta Kota, program yang denyut dan bergerak bersama fisik Makassar Creative Hub. Program Talenta Kota dirancang sebagai upaya jangka panjang untuk merawat dan memutar sirkulasi bakat kreatif Makassar—dari tahap pemetaan, penguatan kapasitas, inkubasi, hingga akselerasi di level nasional dan internasional.

Pendekatan yang digunakan tidak instan. Talenta dipetakan dan diseleksi secara berjenjang berdasarkan kualitas dan kompetensi di subsektor Film & Pertunjukan, Seni Rupa & Kriya, juga Literasi & Penerbitan. Pada tahap awal, lebih dari 125 talenta akan mengikuti kelas terpadu berbasis proses. Dari jumlah tersebut, 20 orang masuk tahap inkubasi untuk proses produksi karya, dan hanya 3 orang yang akan melaju ke jenjang pengorbitan dengan pendampingan intensif.

Talenta Kota mendorong presentasi karya dan jejaring di berbagai platform—regional, nasional, hingga internasional. Sepanjang 2026, sejumlah talenta Makassar dijadwalkan mengikuti forum dan festival bergengsi seperti program Next Level Kedubes Amerika Serikat, Busan International Film Festival, Angkor Photo & Workshop Festival di Kamboja, Australian Performing Arts Market di Perth, termasuk event dan residensi di lintas sektor di berbagai kota besar di Indonesia. Aktivasi inilah yang menandai keseriusan Pemerintah Kota Makassar untuk mendorong proses belajar, pitching, pertukaran budaya, sekaligus pembukaan akses pasar yang selama ini sulit dijangkau pelaku industri.

Ekosistem ini diperkuat oleh jejaring kolaborator yang luas—mulai dari komunitas lintas daerah, kedutaan besar, lembaga pendidikan, festival nasional, hingga residensi internasional. Namun, Talenta Kota tetap berpijak pada prinsip collective caring ecosystm, artinya kolaborasi, berbagi, dan saling merawat menjadi pilar utama. Ukuran keberhasilan tidak semata jumlah peserta atau festival yang diikuti, tetapi juga dampak yang mungkin sunyi—peningkatan kompetensi, lahirnya karya siap tampil, terbentuknya jejaring yang lebih luas, hingga peluang kerja baru, meski masih dalam skala kecil dan sementara.

Namun, di titik ini, penting pula untuk bersikap jujur bahwa proses pemajuan talenta kreatif tidak selalu berbanding lurus dengan keberlanjutan ekonomi pelakunya. Banyak proses pembelajaran, produksi karya, dan jejaring yang berjalan dengan baik secara kultural, tetapi belum sepenuhnya berujung pada peluang kerja yang stabil dan berjangka panjang. Risiko romantisasi proses menjadi tantangan tersendiri—ketika belajar dan berkarya dianggap cukup, sementara kebutuhan untuk bertahan hidup secara profesional belum sepenuhnya terjawab.

Selain itu, sebagai inisiatif yang lahir dari kebijakan publik, Makassar Creative Hub juga perlu terus mengantisipasi ketergantungan pada figur, program prioritas, dan momentum politik tertentu. Keberlanjutan ekosistem tidak boleh hanya bergantung pada semangat individu atau siklus kebijakan tahunan, melainkan harus dibangun sebagai sistem yang mampu bertahan, beradaptasi, dan tetap relevan di tengah perubahan arah kebijakan kota.

Di dalam segala keterbatasannya, Talenta Kota mencoba menjadi denyut baru yang menjaga aliran industri kreatif tetap bergerak. Pelan, terukur, dan berkelanjutan.

Kepercayaan Milik Publik

Pada akhirnya, Makassar Creative Hub tidak lagi bicara tentang gedung, program, atau struktur organisasi. Lebih dari itu, Makassar Creative Hub adalah kepercayaan bahwa kota ini memiliki banyak orang yang mau berbagi ruang, waktu, dan pengetahuan demi masa depan bersama.

Makassar Creative Hub memilih untuk tidak berdiri di atas, melainkan berjalan di tengah. Mendengarkan kebutuhan komunitas, membuka ruang dialog, dan menerima kritik sebagai bagian dari proses belajar. Prinsip inklusivitas, keberlanjutan, aksesibilitas, dan dampak sosial menjadi pegangan, meski penerapannya masih harus disempurnakan dari hari ke hari

Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan; memperkuat aktivasi di berbagai sektor, memperluas kompetensi pelaku industri, memastikan keberlanjutan dan pembaharuan program di setiap tahunnya. Giat-giat itulah yang menumbuhkan komitmen untuk merawat ruang ini sebagai milik bersama—ruang publik yang hidup karena dipakai, dikritik, dan dirawat oleh warganya sendiri.

Sumber: