DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Tidak Sekadar Pengelolaan Limbah, APPMBGI Tekankan Ketersediaan Air Bersih Sehat untuk MBG

Tidak Sekadar Pengelolaan Limbah, APPMBGI Tekankan Ketersediaan Air Bersih Sehat untuk MBG

Ketua Umum APPMBGI, Dr. Abdul Rivai Ras. --

DISWAY SULSEL – Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) menilai pengawasan ketat terhadap 140 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Purwakarta tidak boleh hanya difokuskan pada aspek pengelolaan limbah dan kepatuhan standar operasional prosedur (SOP), tetapi juga harus memperkuat aspek paling mendasar dalam keamanan pangan, yakni ketersediaan air bersih yang sehat dan layak.

Ketua Umum APPMBGI, Dr. Abdul Rivai Ras, mengatakan bahwa isu air bersih masih sangat jarang dibicarakan dalam diskursus Program Makan Bergizi Gratis (MBG), padahal air merupakan faktor kunci dalam seluruh rantai pengolahan makanan.

“Pengelolaan limbah memang penting, tetapi jauh lebih fundamental adalah memastikan setiap dapur MBG memiliki akses terhadap air bersih yang sehat dan layak. Tanpa air yang aman, seluruh proses produksi makanan berisiko tinggi, mulai dari pencucian bahan, pengolahan, hingga sanitasi peralatan,” kata Abdul Rivai Ras dalam keterangan tertulis.

Sebagaimana diberitakan, Badan Gizi Nasional melakukan pengawasan ketat terhadap 140 SPPG di Purwakarta dan menekankan kedisiplinan SOP serta pengelolaan limbah sebagai bagian dari penguatan tata kelola dapur MBG.

Menurut Dr. Abdul Rivai Ras, pengawasan tersebut perlu diperluas dengan memasukkan indikator ketersediaan air bersih sebagai bagian dari standar minimum kelayakan operasional dapur.

“Air adalah medium utama dalam keamanan pangan. Jika kualitas air tidak terjamin, maka risiko kontaminasi biologis dan kimia akan sangat besar. Ini berpotensi menjadi sumber masalah baru, termasuk kejadian keracunan makanan,” ujarnya.

Ia menegaskan, persoalan air bersih seharusnya tidak dipandang semata sebagai isu teknis dapur, melainkan sebagai bagian dari agenda strategis ketahanan nasional, khususnya ketahanan air.

Dalam kapasitasnya sebagai Kepala Pusat Studi Keamanan Maritim dan Ketahanan Air di Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Dr. Abdul Rivai Ras menilai bahwa keberlanjutan Program MBG sangat bergantung pada daya dukung sumber air yang aman dan berkelanjutan, terutama di wilayah yang secara infrastruktur masih terbatas.

“Dari perspektif ketahanan air, kita tidak bisa hanya menghitung jumlah dapur dan porsi makanan. Kita juga harus memastikan apakah sumber air di sekitar dapur itu aman, cukup, dan berkelanjutan. Tanpa pendekatan ini, MBG akan menghadapi risiko struktural dalam jangka menengah dan panjang,” kata dia.

Menurutnya, dapur MBG di berbagai daerah, khususnya wilayah dengan tekanan sumber daya air, berpotensi menghadapi persoalan serius, seperti penggunaan air sumur yang tidak teruji kualitasnya, ketergantungan pada pasokan air tidak tetap, hingga minimnya sistem pengolahan air bersih di tingkat dapur.

“Dalam banyak kasus, dapur berdiri lebih cepat dibanding kesiapan infrastruktur airnya. Ini harus segera dikoreksi,” ujarnya.

Dr. Abdul Rivai Ras menekankan bahwa ketersediaan air bersih yang sehat harus menjadi bagian integral dari standar operasional dapur MBG, sejajar dengan standar bahan baku, higiene tenaga kerja, dan pengelolaan limbah.

“Pengawasan dapur tidak cukup hanya melihat apakah limbah dikelola dengan baik, tetapi juga apakah air yang dipakai memenuhi standar kesehatan. Ini dua sisi yang tidak bisa dipisahkan,” kata dia.

APPMBGI, lanjutnya, mendorong agar pemerintah pusat dan pemerintah daerah mulai memasukkan audit sumber air dan kualitas air sebagai bagian dari proses verifikasi dan evaluasi SPPG.

Sumber: