DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Makassar dan Revolusi Sampah: Dari TPA ke Energi Listrik

Makassar dan Revolusi Sampah: Dari TPA ke Energi Listrik

Prof. Dr. Ir. Ismail Marzuki (Guru Besar Bioremediasi Lingkungan Teknik Kimia UNIFA)--

Oleh: Prof. Dr. Ir. Ismail Marzuki

(Guru Besar Bioremediasi Lingkungan Teknik Kimia UNIFA)

 

DISWAY, SULSEL - Di tengah tumpukan persoalan sampah yang tak kunjung usai, Kota Makassar sebenarnya sedang berdiri di depan sebuah peluang besar. Bukan sekadar mengurangi sampah, tetapi mengubahnya menjadi energi—menjadikan beban kota sebagai sumber daya baru. Di sinilah Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) menemukan momentumnya.

 

Selama ini, sampah selalu diposisikan sebagai masalah. Ia menumpuk di TPA, menimbulkan bau, memicu pencemaran, bahkan menjadi sumber bencana kecil yang berulang—kebakaran, longsor, hingga gangguan kesehatan. Namun melalui pendekatan teknologi seperti PSEL, cara pandang itu mulai bergeser. Sampah tidak lagi sekadar dibuang, tetapi dikelola dan dimanfaatkan.

 

Makassar memiliki semua syarat untuk memulai lompatan ini. Dengan jumlah penduduk lebih dari 1,6 juta jiwa dan produksi sampah harian yang mencapai lebih dari seribu ton, kota ini justru menyimpan “bahan baku energi” yang melimpah. Jika dikelola dengan baik, volume besar ini bukan lagi ancaman, melainkan potensi yang bisa diubah menjadi listrik untuk menopang kebutuhan kota.

 

PSEL bekerja dengan prinsip sederhana: mengolah sampah melalui berbagai proses—seperti pirolisis, gasifikasi, hingga pengolahan biologis—untuk menghasilkan energi. Teknologi ini sudah digunakan di berbagai negara dan terbukti mampu mengurangi volume sampah secara signifikan, sekaligus menghasilkan energi alternatif. Bagi Makassar, ini bukan hanya soal teknologi, tetapi soal arah masa depan kota.

 

Bayangkan jika sampah yang selama ini menumpuk di TPA bisa berkurang drastis. Risiko kebakaran akibat gas metana bisa ditekan, bau menyengat yang selama ini menjadi keluhan warga bisa diminimalkan, dan pencemaran tanah serta air dapat dikendalikan. PSEL membuka jalan menuju pengelolaan sampah yang lebih bersih, lebih aman, dan lebih modern.

 

Tentu, teknologi ini bukan tanpa tantangan. Tetapi justru di situlah letak pentingnya: PSEL mendorong kita untuk membangun sistem yang lebih tertata. Ia menuntut pemilahan sampah yang lebih baik, manajemen yang lebih profesional, serta pengawasan lingkungan yang lebih ketat. Dengan kata lain, kehadiran PSEL bisa menjadi “pemicu perubahan” bagi seluruh ekosistem pengelolaan sampah di kota ini.

 

Di sisi lain, inovasi seperti penggunaan smart bin atau tempat sampah pintar juga menjadi pelengkap yang menarik. Dengan bantuan sensor dan teknologi sederhana, masyarakat bisa mulai memilah sampah sejak dari rumah. Ini penting, karena kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah tetap ada di hulu—di tangan warga itu sendiri.

 

Memang, perubahan perilaku tidak terjadi dalam semalam. Tetapi dengan kombinasi edukasi, teknologi, dan kebijakan yang tepat, kebiasaan baru bisa tumbuh. Dan ketika masyarakat mulai terbiasa memilah sampah, maka kinerja PSEL akan semakin optimal.

 

Yang perlu ditekankan, PSEL bukanlah pengganti upaya lain, melainkan bagian dari solusi besar yang saling melengkapi. Pengurangan sampah, daur ulang, bank sampah, pengolahan organik—semua tetap penting dan justru menjadi fondasi. PSEL hadir untuk menyelesaikan bagian akhir: sampah residu yang tidak lagi bisa dimanfaatkan.

 

Dengan pendekatan seperti ini, Makassar tidak hanya menyelesaikan masalah sampah, tetapi juga membangun sistem ekonomi sirkular—di mana limbah tidak lagi berakhir sebagai beban, melainkan kembali menjadi nilai.

 

Lebih jauh lagi, keberhasilan PSEL bisa menjadi langkah strategis menuju visi Makassar sebagai kota dunia. Kota yang modern bukan hanya dilihat dari gedung tinggi dan infrastruktur megah, tetapi juga dari kemampuannya mengelola persoalan dasar seperti sampah secara cerdas dan berkelanjutan.

 

Kini, pilihan ada di tangan kita: tetap melihat sampah sebagai masalah yang tak pernah selesai, atau mulai melihatnya sebagai peluang yang bisa diolah. PSEL menawarkan jalan ke arah itu—bukan sebagai solusi instan, tetapi sebagai langkah maju yang realistis dan penuh harapan.

 

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, kita bisa membayangkan satu hal yang dulu terasa mustahil: lampu kota Makassar menyala, sebagian dari energinya berasal dari sampah yang dulu kita anggap tidak berguna.

Sumber: