Tanami Tanata’: Ketika Kota Belajar Mengolah Sisa Hidupnya Sendiri
--
Oleh: Fadly Padi
Artis, Aktivis Inisiator Gerakan Tanami Tanata'
DISWAY, SULSEL- Saya selalu percaya bahwa kota yang sehat adalah kota yang masih memberi ruang bagi tanah untuk bernapas.
Hari ini, kota-kota tumbuh begitu cepat. Beton naik tanpa jeda. Lorong-lorong makin padat. Rumah-rumah saling menempel. Tetapi di saat yang sama, kita sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih sunyi: sampah yang terus bertambah dan tanah yang perlahan kehilangan hubungan dengan manusia.
Makassar tidak berbeda.
Setiap hari, ribuan ton sampah bergerak menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa Antang. Truk datang dan pergi seperti denyut nadi kota yang kelelahan. Sebagian besar dari sampah itu bukan plastik atau besi. Ia berasal dari dapur kita sendiri: sisa sayur, kulit buah, nasi basi, ampas makanan—sisa kehidupan sehari-hari yang sesungguhnya masih memiliki masa depan.
Sayangnya, selama bertahun-tahun kita terbiasa melihat sampah sebagai akhir. Sesuatu yang harus dibuang sejauh mungkin dari pandangan mata. Padahal, persoalan sampah tidak pernah selesai hanya dengan memindahkannya dari rumah menuju TPA. Kita hanya sedang memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain.
Dari kegelisahan itulah Gerakan Tanami Tanata’ lahir.
Dalam bahasa Makassar, Tanami Tanata’ berarti “Tanami Tanah Kita.” Sebuah ajakan sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam: bahwa kota ini tidak akan berubah jika warganya kehilangan hubungan dengan tanahnya sendiri.
Saya tidak pernah melihat urban farming sekadar tren menanam cabai di pot atau menghias lorong agar tampak hijau untuk kepentingan seremonial. Bagi saya, pertanian perkotaan adalah pintu masuk untuk membangun ulang cara berpikir masyarakat tentang kehidupan kota itu sendiri.
Kota tidak boleh hanya menjadi tempat konsumsi. Kota juga harus mampu memproduksi kehidupan.
Karena itu, Tanami Tanata’ tidak dimulai dari bibit tanaman. Ia dimulai dari dapur.
Dari tempat paling sederhana dalam rumah tangga.
Di sanalah siklus kehidupan kota sesungguhnya dimulai. Ketika warga mulai memilah sisa makanan, ketika kulit buah tidak lagi dilempar bercampur plastik, ketika ampas dapur dipandang bukan sebagai limbah, melainkan bahan baku kehidupan baru—maka saat itu kota sedang belajar menjadi dewasa secara ekologis.
Gerakan ini mencoba memutus logika lama tentang sampah: produksi, konsumsi, lalu buang. Sebuah pola linear yang membuat kota terus bergantung pada TPA yang kapasitasnya semakin kritis.
Sebaliknya, kami mencoba membangun siklus yang lebih bijaksana.
Sisa dapur difermentasi menjadi eco-enzyme. Sebagian diolah menjadi kompos melalui metode sederhana seperti Takakura, ember tumpuk, dan biopori. Sebagian lagi dimanfaatkan melalui budidaya maggot Black Soldier Fly yang mampu mengurai sampah organik dengan cepat sekaligus menghasilkan pakan bernilai ekonomi.
Lalu seluruh hasil itu kembali ke tanah.
Kembali menjadi pupuk. Menjadi nutrisi. Menjadi sumber kehidupan baru bagi cabai, kangkung, sawi, tomat, bahkan kolam ikan dan peternakan kecil di tengah kota.
Di titik itulah saya merasa kita sedang membangun sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penghijauan. Kita sedang mengembalikan makna siklus hidup.
Bahwa apa yang kita anggap sisa, ternyata masih bisa menjadi sumber kehidupan bagi yang lain.
Makassar memiliki karakter sosial yang kuat. Lorong-lorongnya hidup. Orang-orangnya masih saling mengenal. Modal sosial seperti ini sangat mahal dalam kehidupan kota modern. Dan Tanami Tanata’ mencoba menghidupkan kembali energi itu.
Saya melihat ibu-ibu saling bertukar bibit cabai. Anak-anak mulai mengenal kompos. Warga belajar membuat eco-enzyme bersama. Ada yang mulai memelihara maggot. Ada yang memanfaatkan pekarangan sempit untuk menanam kangkung. Ada yang mengubah dinding lorong menjadi kebun vertikal.
Kota yang sebelumnya dipenuhi tembok perlahan berubah menjadi ruang interaksi.
Dan saya kira, inilah yang paling penting: gerakan lingkungan seharusnya tidak membuat manusia semakin individual, tetapi justru mempertemukan kembali manusia dengan sesamanya.
Tentu jalan ini tidak mudah.
Gerakan berbasis komunitas selalu menghadapi tantangan yang sama: semangat yang tinggi saat seremoni, lalu perlahan meredup ketika rutinitas kembali datang. Ada persoalan konsistensi, keterbatasan pendamping, hingga ketergantungan terhadap figur tertentu.
Karena itu saya selalu percaya bahwa gerakan ini tidak boleh bergantung pada satu nama. Tanami Tanata’ harus menjadi milik warga. Ia harus hidup di tangan fasilitator lorong, kader lingkungan, penyuluh lapangan, dan komunitas-komunitas kecil yang bekerja diam-diam menjaga tanahnya sendiri.
Sebab kota tidak dibangun oleh satu orang.
Kota dibangun oleh kebiasaan bersama.
Di sisi lain, gerakan ini juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Dunia akademik mulai terlibat. Diskusi tentang teknologi pertanian perkotaan, pemetaan produksi pangan lorong, hingga pemanfaatan Internet of Things untuk monitoring urban farming mulai tumbuh bersama kampus dan komunitas.
Tetapi sesungguhnya, teknologi hanyalah alat.
Yang paling penting tetap kesadaran manusianya.
Sebab sehebat apa pun teknologi pengelolaan sampah, ia tidak akan pernah cukup jika manusia tetap hidup dengan budaya membuang.
Hari ini kita sering membayangkan masa depan kota melalui gedung tinggi, jalan layang, atau pusat bisnis modern. Padahal bisa jadi masa depan kota justru lahir dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: dari dapur yang memilah sampahnya sendiri, dari ember kompos di halaman rumah, dari cabai yang tumbuh di lorong sempit, dan dari warga yang kembali mengenal tanahnya.
Saya percaya, kota masa depan bukan kota yang bebas sampah.
Itu utopia.
Tetapi kota masa depan adalah kota yang mampu mengolah sisa hidupnya sendiri secara bijaksana.
Dan mungkin, perubahan besar memang selalu dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan bersama-sama.
Dari satu rumah.
Satu lorong.
Satu bibit.
Lalu tumbuh menjadi harapan untuk seluruh kota.
Sumber:


