DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Ketika Perang Melawan Krisis Iklim Dimulai dari Ember Kompos di Halaman Rumah

Ketika Perang Melawan Krisis Iklim Dimulai dari Ember Kompos di Halaman Rumah

--

Oleh: Mashud Azikin

Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar

 

DISWAY, SULSEL - Ada sebuah ironi yang jarang disadari dalam perdebatan tentang perubahan iklim. Kita begitu sering berbicara tentang konferensi internasional, transisi energi, perdagangan karbon, dan target net zero emission, tetapi lupa menoleh ke tempat paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: tempat sampah di dapur rumah sendiri.

 

Di Makassar, ironi itu tampak nyata.

Krisis iklim bukan lagi cerita tentang bongkahan es yang mencair di Kutub Utara atau hutan Amazon yang terbakar ribuan kilometer dari Indonesia. Krisis itu hadir dalam bentuk yang lebih dekat dan lebih membumi. Ia menyusup melalui cuaca yang semakin sulit ditebak, gelombang pasang yang mengancam kawasan pesisir, musim tangkap yang berubah bagi nelayan, hingga tekanan lingkungan yang semakin terasa di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa.

 

Di tengah kenyataan itu, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dengan tema nasional “Saatnya Bekerja untuk Iklim” seharusnya tidak berhenti sebagai slogan seremonial. Tema tersebut sesungguhnya merupakan panggilan untuk mengubah cara pandang terhadap persoalan lingkungan yang selama ini dianggap sepele: sampah rumah tangga.

Di situlah sesungguhnya salah satu medan pertempuran iklim terbesar berada.

 

Ketika Sampah Menjadi Senjata Pemanasan Global

 

Banyak orang mengira ancaman terbesar terhadap iklim berasal dari cerobong pabrik atau kendaraan bermotor. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.

Di banyak kota berkembang, termasuk Makassar, sampah organik justru menjadi sumber emisi yang sering diabaikan.

 

Masalahnya bukan terletak pada kulit buah, sisa nasi, atau potongan sayuran yang dibuang masyarakat setiap hari. Masalah muncul ketika seluruh material itu dicampur bersama plastik, popok sekali pakai, kemasan makanan, dan berbagai limbah lainnya, lalu ditumpuk dalam satu sistem pembuangan raksasa.

 

Di dalam gunungan sampah yang terus bertambah, oksigen perlahan menghilang. Ketika kondisi tanpa oksigen atau anaerobik terbentuk, mikroorganisme metanogenik mulai bekerja menguraikan material organik. Hasil akhirnya adalah gas metana (CHâ‚„), salah satu gas rumah kaca paling kuat yang dikenal ilmu pengetahuan modern.

 

Dalam horizon dua puluh tahun, kemampuan metana memerangkap panas mencapai lebih dari delapan puluh kali lipat dibanding karbon dioksida. Dengan kata lain, satu kilogram metana yang dilepas ke atmosfer memiliki dampak pemanasan yang jauh lebih besar daripada satu kilogram karbon dioksida.

Karena itu, persoalan sampah tidak lagi semata-mata urusan kebersihan kota. Ia telah berubah menjadi persoalan iklim global.

 

Setiap kantong sampah organik yang berakhir di TPA sebenarnya membawa potensi emisi yang tidak kecil. Semakin besar volume sampah yang ditimbun, semakin besar pula peluang terbentuknya "pabrik metana" yang bekerja tanpa henti di bawah permukaan.

Fenomena inilah yang sering luput dari perhatian publik.

 

Mengembalikan Logika Alam

 

Alam sesungguhnya tidak mengenal istilah sampah.

Dalam ekosistem hutan, daun yang gugur tidak pernah menjadi limbah. Batang pohon yang tumbang tidak pernah dianggap barang tak berguna. Semuanya kembali masuk ke dalam siklus kehidupan sebagai sumber nutrisi bagi organisme lain.

 

Tidak ada yang terbuang.

Yang terjadi justru perputaran materi yang berlangsung terus-menerus.

 

Manusia modernlah yang menciptakan konsep sampah melalui pola konsumsi linier: membeli, memakai, lalu membuang. Sistem ini memutus rantai ekologis yang selama jutaan tahun bekerja secara sempurna.

 

Ketika sisa makanan dicampur dengan plastik dan dikirim ke TPA, kita sebenarnya sedang menghalangi alam menyelesaikan proses daur ulangnya secara alami.

 

Akibatnya bukan hanya penumpukan limbah, tetapi juga lahirnya emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar.

Karena itu, solusi ekologis paling mendasar bukanlah membangun TPA yang lebih luas, melainkan mengurangi ketergantungan terhadap TPA itu sendiri.

Logikanya sederhana.

 

Jika sampah organik tidak pernah sampai ke TPA, maka produksi metana dapat ditekan sejak dari sumbernya.

 

Revolusi Sunyi dari Lorong-Lorong Makassar

 

Di sinilah menariknya pendekatan yang mulai dikembangkan melalui Gerakan Indonesia ASRI di Kota Makassar.

Alih-alih memusatkan perhatian pada hilir, pemerintah kota mulai mendorong penguatan pengelolaan sampah dari tingkat kelurahan dan kecamatan. Melalui penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) berbasis kondisi riil masyarakat, pendekatan lingkungan tidak lagi dibangun dari balik meja birokrasi semata.

 

Yang dipetakan bukan hanya volume sampah.

Yang dipelajari adalah perilaku manusia.

Bagaimana warga membuang sampah. Seberapa disiplin mereka memilah. Apa hambatan sosial yang mereka hadapi. Siapa tokoh yang mampu menggerakkan perubahan di lingkungan setempat.

 

Pendekatan seperti ini penting karena masalah lingkungan pada dasarnya bukan persoalan teknologi semata, melainkan persoalan budaya.

 

Mesin pengolah sampah secanggih apa pun akan gagal bila masyarakat tidak mengubah perilakunya. Sebaliknya, perubahan perilaku yang konsisten sering kali mampu menghasilkan dampak lebih besar daripada investasi infrastruktur bernilai miliaran rupiah.

 

Karena itu, pemetaan sosial yang dilakukan hingga tingkat lorong sesungguhnya merupakan bentuk intervensi ekologis yang strategis.

Ia menyentuh akar persoalan.

 

Diplomasi Iklim dari Dapur Rumah Tangga

Di banyak rumah warga Makassar, perubahan besar sering dimulai dari langkah yang sangat sederhana.

 

Kulit buah yang sebelumnya dibuang kini difermentasi menjadi eco-enzyme. Sisa sayuran yang dahulu masuk kantong sampah mulai diolah menjadi kompos. Ember komposter menjadi bagian dari perlengkapan rumah tangga. Bank sampah tumbuh sebagai ruang pembelajaran sekaligus pemberdayaan ekonomi warga.

 

Bagi sebagian orang, aktivitas tersebut mungkin tampak kecil.

Namun dari perspektif ekologi, inilah bentuk diplomasi iklim yang paling nyata.

 

Setiap kilogram sampah organik yang diolah secara aerobik berarti satu kilogram material yang tidak lagi menghasilkan metana di TPA. Setiap liter eco-enzyme yang dihasilkan merupakan bukti bahwa limbah dapat kembali menjadi sumber daya. Setiap kompos yang digunakan untuk penghijauan lorong membantu memperbaiki kualitas tanah sekaligus meningkatkan daya serap karbon oleh vegetasi.

 

Perubahan besar memang tidak selalu lahir dari proyek raksasa.

Sering kali ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara kolektif.

 

Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan, revolusi ekologis itu justru berlangsung dalam keheningan lorong-lorong kampung.

 

Dari Lorong untuk Dunia

 

Krisis iklim adalah persoalan global, tetapi solusinya selalu bersifat lokal.

Tidak ada kota yang terlalu kecil untuk berkontribusi. Tidak ada komunitas yang terlalu sederhana untuk menciptakan perubahan. Dan tidak ada tindakan yang terlalu sepele ketika berbicara tentang masa depan bumi.

 

Makassar memberikan pelajaran penting bahwa pembangunan lingkungan tidak harus dimulai dari proyek spektakuler. Ia dapat dimulai dari kesediaan masyarakat memisahkan sampah di rumah, dari kepemimpinan lurah yang konsisten mengorganisasi warganya, dan dari keberanian pemerintah mengubah pendekatan pengelolaan sampah dari paradigma buang menjadi paradigma olah.

 

Di tengah ancaman pemanasan global yang semakin nyata, kota ini sedang menulis sebuah narasi baru: bahwa ikhtiar menyelamatkan bumi tidak selalu lahir dari ruang konferensi internasional, tetapi juga dari ember kompos di halaman rumah dan dari kesadaran warga yang memilih untuk tidak lagi memperlakukan sampah sebagai musuh.

 

Karena pada akhirnya, perang melawan krisis iklim bukanlah perang yang dimenangkan oleh teknologi semata. Ia dimenangkan oleh perubahan cara berpikir dan cara hidup.

 

Dan di Makassar, perubahan itu sedang tumbuh dari lorong-lorong kota.

Dari lorong untuk dunia, saatnya bekerja untuk iklim. (*)

Sumber: