DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Appi Seharusnya Memang Tetap di Golkar

Appi Seharusnya Memang Tetap di Golkar

Arief Wicaksono (Pengamat Politik / Akademisi)--

Arief Wicaksono 

(Pengamat Politik / Akademisi)

 

DISWAY, SULSEL - Panggung politik Sulawesi Selatan selalu punya cara sendiri untuk menguji mentalitas para pemainnya. Riuh rendah pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD I Partai Golkar Sulsel di Hotel Claro Makassar akhirnya mendekati babak akhir. Apalagi setelah mekanisme administrasi dan dinamika diskresi elit pusat perlahan mengunci ruang kompetisi. Bagi sebagian pihak, kepastian aklamasi pada Musda Golkar, dianggap sebagai akhir dari sebuah rivalitas. Namun, bagi mereka yang memahami denyut nadi budaya politik Bugis-Makassar, sebuah makna yang jauh lebih mendalam justru baru saja dimulai, sebuah lanskap politik baru pun akan terbentuk.

 

Realitas Musda kali ini mungkin menyisakan rasa sesak di dada para pendukung Munafri Arifuddin (Appi). Ada momentum di mana dedikasi, loyalitas, dan investasi sosial yang telah tertanam selama ini seolah terbentur oleh sebuah dinding formalitas, dinding yang selama ini tidak dibangun oleh Appi. Di tengah puncak ketegangan tersebut, keputusan Appi untuk bertolak ke Tanah Suci melaksanakan ibadah umrah sempat memicu berbagai spekulasi. Ada yang menganggapnya sebagai bentuk kekecewaan, bahkan ada yang meramalkan ini adalah salam perpisahan Appi dari rumah besar yang ikut dirawatnya,  Partai Golkar.

 

Namun, mengukur langkah seorang pemimpin tidak bisa hanya menggunakan kalkulasi matematis jangka pendek. Tidak banyak yang memahami letak keunikan karakter Appi sebagai pribadi. Keberangkatannya ke Mekkah di tengah badai politik bukanlah sebuah bentuk pelarian atau kepasrahan yang menunjukkan kerapuhan. Perjalanan ibadah itu sesungguhnya adalah sebuah jeda spiritual yang krusial sebagai sebuah kesadaran untuk menjauhkan diri dari syahwat kekuasaan yang fana. 

 

Dalam kosmologi sosial Sulawesi Selatan, politik bukan sekadar tentang siapa yang memegang tongkat komando hari ini, melainkan tentang bagaimana seorang kesatria yang selalu, tidak hanya menjaga martabatnya dalam segala medan pengabdian. Kita mengenal falsafah luhur Siri' na Pacce. Filosofi dari sebuah keadaan dimana ketika ruang aktualisasi dihambat oleh sebuah sistem, maka reaksi emosional yang meledak-ledak atau keputusan terburu-buru justru akan menggerus kewibawaan seorang pemimpin. Masyarakat Sulsel tidak menghormati politisi yang mengamuk saat keinginannya tidak tercapai. Tapi sebaliknya, kultur Sulsel menaruh hormat yang tak terhingga kepada figur yang memilih jalan Sabar (ketabahan) dan Te'ne (keikhlasan).

 

Dengan memilih untuk tetap tenang dan mempertahankan komitmennya sebagai kader Beringin, Appi sesungguhnya sedang berkomunikasi dengan khalayak, bahwa Appi tidak sedang membalas ketidakadilan struktural dengan konfrontasi terbuka, melainkan dengan merangkul realitas dengan jiwa yang lapang. 

 

Langkah ini menempatkan Appi pada posisi moral yang sangat tinggi (moral high ground). Publik tidak lagi melihatnya sekadar sebagai seorang politisi yang bertarung memperebutkan kekuasaan, melainkan sebagai seorang negarawan yang tahu kapan harus menahan diri demi soliditas organisasi.

 

Bagi masyarakat akar rumput di Makassar, ketenangan  Appi harus dimaknai sebagai instruksi tak tertulis untuk mengonsolidasikan barisan, bukan sebagai perintah untuk membubarkan diri dan mencari selamat masing-masing. Struktur formal partai di tingkat provinsi boleh saja berganti nakhoda, dan itu adalah realitas organisasi yang harus dihormati bersama. Namun, sejarah  akan selalu mencatat bahwa legitimasi sejati seorang pemimpin sejati tertanam kuat di dalam hati sanubari rakyatnya.

 

Absennya Appi dalam Musda DPD I Golkar Sulsel, justru memberikan sekat perlindungan yang luar biasa bagi dirinya. Tanpa beban, Appi memiliki kebebasan bergerak yang jauh lebih cair untuk kembali ke basis massa, mendengarkan keluh kesah masyarakat, dan merawat ikatan emosional dengan para kader di wilayah melalui prinsip Sipakatau (saling memanusiakan). 

 

Politik selalu bergerak melingkar, dan dinamika di tingkat nasional maupun daerah tidak pernah bersifat permanen dan kongruen. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang diuji dan ditempa oleh waktu, dan bukan lahir dari fasilitas yang instan, yang didapatkan misalnya dari secarik diskresi. Ketika target-target elektoral di masa depan menuntut pembuktian nyata di lapangan, lembar-lembar survei ilmiah akan kembali menjadi pemandu utama bagi para pengambil keputusan. 

 

Saat itulah, investasi moral, ketenangan sikap, pemahaman kultural, dan loyalitas tanpa syarat yang ditunjukkan Appi hari ini akan bertransformasi menjadi modal politik yang tak ternilai harganya. Organisasi akan selalu mencari figur yang tidak hanya memiliki nyali bertarung, tetapi juga memiliki kedalaman akar sosiologis di masyarakat.

 

Bagi seluruh relawan dan simpatisan setia Munafri Arifuddin, tidak ada alasan untuk tidak menegakkan kepala  dan merapatkan barisan dalam keheningan yang terukur. Momen Musda kali ini bukanlah sebuah titik akhir, tetapi lebih kepada sebuah halte pemberhentian sementara untuk menata ulang energi perjuangan. Perjalanan politik  masih sangat panjang menuju tahun-tahun politik ke depan.

 

Appi akan segera kembali ke Makassar sebagai seorang ksatria, bukan untuk merusak Beringin Kuning tempatnya bernaung, melainkan untuk membuktikan bahwa ketabahan dan kesetiaan, adalah nilai tertinggi dalam sikap politik Bugis-Makassar.

Sumber: