Kritik atau Menjatuhkan? Mengenali Karakter Antagonis
Oleh: Prof. Dr. Munawir Kamaluddin (Pakar Pendidikan Nilai dan Karakter)--
Oleh: Prof. Dr. Munawir Kamaluddin
(Pakar Pendidikan Nilai dan Karakter)
DISWAY, SULSEL -Dalam kehidupan sosial, kritik diperlukan untuk mengoreksi kesalahan dan mendorong perbaikan. Namun, kritik dapat kehilangan nilai ketika berubah menjadi sarana menyerang, merendahkan, mempermalukan, atau menjatuhkan orang lain demi mendapatkan perhatian dan pengakuan.
Di sinilah karakter antagonis perlu dibedakan dari pribadi yang kritis. Orang yang kritis tidak sekadar menemukan kesalahan, tetapi berusaha memahami persoalan secara utuh, menguji berbagai sudut pandang, dan menawarkan jalan keluar. Sebaliknya, karakter antagonis cenderung menjadikan kelemahan orang lain sebagai panggung untuk menunjukkan dirinya.
Ia gemar mencari kesalahan, membongkar kekurangan, memperbesar persoalan, lalu mengemasnya seolah-olah sebagai masalah besar. Tujuannya bukan semata-mata menyelesaikan persoalan, melainkan membangun citra sebagai orang yang paling kritis, paling berani, atau bahkan sebagai “pahlawan” yang sedang membela kebenaran.
Padahal, di balik retorika tersebut dapat tersembunyi dorongan untuk memperoleh legitimasi sosial dan pengakuan bahwa dirinya berada di pihak yang paling benar.
Yang membedakan kritik dengan serangan bukan sekadar keras atau lembutnya bahasa, melainkan tujuan dan dampaknya. Kritik yang sehat berfokus pada persoalan dan diarahkan pada perbaikan. Sebaliknya, serangan cenderung bergeser dari persoalan kepada pribadi. Kesalahan diungkit, kelemahan dipertontonkan, dan pihak yang dikritik ditempatkan sebagai objek untuk dihakimi.
Pada kondisi tertentu, karakter antagonis bahkan tidak membutuhkan persoalan itu segera selesai. Konflik justru dapat menjadi sumber perhatian. Selama persoalan tetap hidup, selama ada pihak yang dapat disalahkan, selama ada perdebatan yang dapat dipertontonkan, selama itu pula panggungnya tetap tersedia.
Sumber:

