Satu Bumi, Satu Perjuangan Menjaga Lingkungan Makassar
--
Oleh: Mashud Azikin
(Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar)
DISWAY, SULSEL - Krisis lingkungan di Makassar tidak mengenal batas agama, kelompok, maupun identitas sosial. Sampah yang menyumbat kanal, air limbah yang mencemari lingkungan, dan udara yang tercemar menimbulkan dampak yang dirasakan bersama.
Karena itu, persoalan ekologis tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan teknis. Pengelolaan sampah, pengolahan limbah, penyediaan infrastruktur, dan penegakan aturan memang penting. Namun, semua itu membutuhkan perubahan cara pandang manusia terhadap alam.
Di sinilah agama memiliki ruang penting.
Agama tidak semestinya berhenti pada seruan tentang kebersihan yang disampaikan dari mimbar. Nilai-nilai keagamaan perlu diterjemahkan menjadi tanggung jawab nyata untuk menjaga lingkungan sebagai ruang hidup bersama.
Iman yang Berhenti di Mimbar
Di sebuah kanal di Makassar, sampah mengapung bersama sisa makanan dan plastik kemasan. Airnya keruh dan berbau.
Sumber:

