DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Ketika Hidup Terasa Seperti Daftar Kewajiban

Ketika Hidup Terasa Seperti Daftar Kewajiban

Safrida, Prodi S2 Manajemen Institut Ilmu Sosial dan Bisnis Andi Sapada Parepare--

Oleh: Safrida 

(Prodi S2 Manajemen Institut Ilmu Sosial dan Bisnis Andi Sapada Parepare)

Kita bekerja dan merawat orang-orang yang kita cintai. Namun, siapa yang menjaga agar kita sendiri tidak hilang di tengah semua peran itu?

DISWAY, SULSEL - Kita sering memulai hari dengan daftar yang harus dituntaskan: pekerjaan, urusan keluarga, kuliah, tagihan, pesan yang belum dibalas. Satu kewajiban selesai, kewajiban lain menunggu. Dalam keadaan seperti ini, hidup dapat terasa seperti rangkaian tugas yang terus bergerak, sementara kebutuhan diri sendiri selalu ditempatkan paling akhir.

Tulisan refleksi tentang pengalaman menjalani banyak peran sekaligus. Ada yang belajar sambil bekerja, membantu keluarga, membangun masa depan, dan berusaha tetap hadir bagi orang-orang terdekat. Pengalaman ini mengingatkan bahwa pertanyaan tentang keseimbangan hidup bukan urusan satu generasi atau satu profesi. Ini pertanyaan yang semakin dekat dengan kehidupan banyak orang.

Tanggung jawab punya batas

Setiap orang menjalankan sejumlah peran: sebagai pekerja, mahasiswa, pasangan, orang tua, anak, teman, atau anggota masyarakat. Masing-masing membawa harapan dan tuntutan. Waktu, tenaga, perhatian, dan kemampuan emosional kita terbatas, tetapi daftar tuntutan sering terasa tidak ada habisnya. Sosiolog William J. Goode menyebut tekanan yang muncul ketika tuntutan beberapa peran bertemu sebagai role strain.

Tekanan itu tidak selalu terlihat sebagai masalah besar. Kadang ia muncul sebagai kebiasaan menunda istirahat, membatalkan rencana pribadi, atau merasa bersalah ketika mengambil waktu untuk diri sendiri. Kita terus berkata, “nanti saja, setelah semua selesai.” Padahal, semua urusan jarang benar-benar selesai.

Dalam relasi kerja dan keluarga, konflik juga tidak selalu berarti pertengkaran. Seseorang mungkin bekerja keras demi keluarga, tetapi pekerjaan yang sama menyita waktu dan pikirannya saat ia berada di rumah. Sebaliknya, persoalan keluarga dapat terbawa ke ruang kerja atau ruang kuliah. Kita hadir secara fisik, tetapi perhatian tertinggal di tempat lain. Greenhaus dan Beutell menjelaskan bahwa konflik kerja-keluarga dapat muncul karena waktu, tekanan, dan tuntutan perilaku dari kedua ranah itu saling berbenturan.

Ada pula kerja yang tidak tercatat dalam jadwal atau slip gaji: menahan kecewa, menjaga suasana, terlihat tenang saat cemas, dan terus memberi dukungan ketika diri sendiri lelah. Sosiolog Arlie Russell Hochschild menyebut pengelolaan perasaan semacam ini sebagai kerja emosional. Kerja tersebut membantu menjaga hubungan, tetapi dapat melelahkan jika tidak disertai kesempatan untuk beristirahat dan berbicara jujur.

 

Produktif bukan satu-satunya ukuran

Masyarakat sering mengukur keberhasilan dari capaian yang mudah dihitung: pendapatan, jabatan, nilai, jumlah pekerjaan yang selesai. Ukuran itu penting, tetapi tidak cukup. Kita juga perlu bertanya apakah seseorang masih memiliki waktu untuk orang yang disayanginya, ruang untuk menentukan pilihan, tujuan yang dirasakannya bermakna, dan kesempatan untuk berkembang. Carol Ryff menempatkan hal-hal seperti relasi positif, otonomi, tujuan hidup, penerimaan diri, dan pertumbuhan sebagai bagian dari kesejahteraan psikologis.

Pekerjaan dapat memberi penghasilan, struktur, identitas, dan rasa berguna. Namun, nilai manusia tidak boleh sepenuhnya disamakan dengan produktivitas. Saat seseorang kehilangan pekerjaan, mengalami sakit, atau perlu berhenti sejenak, martabatnya tidak ikut berkurang. Kita perlu menjaga perbedaan antara apa yang mampu kita hasilkan dan siapa diri kita.

Sumber: