DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Pemuda ICMI Sulsel Dorong Aksi Nyata untuk Generasi Muda

Pemuda ICMI Sulsel Dorong Aksi Nyata untuk Generasi Muda

--

DISWAY, SULSEL – Memperingati Milad ke-33, Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Sulawesi Selatan menggelar diskusi publik bertajuk “Bonus Demografi atau Problematika? Membaca Masa Depan Generasi Muda Sulawesi Selatan” di Warkop Opini, Jalan Jipang Raya, Makassar

Diskusi ini membahas peluang dan tantangan bonus demografi, mulai dari kualitas sumber daya manusia dan persoalan ketenagakerjaan hingga peran strategis generasi muda dalam pembangunan daerah.

 

Hadir sebagai narasumber, Dr. Irvan Roberto, M.I.Kom., Ketua Pokja Pengelolaan Penduduk BKKBN Perwakilan Sulawesi Selatan sekaligus Wakil Ketua Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Sulsel, serta Dr. Busman Dahlan Shirat, M.Hum., Manager External Relations and Social Development Program Vale Indonesia dan Ketua IKA Sosiologi Unhas. Diskusi dipandu oleh Dr. Nur Riswandy Marsuki, M.Si., Sekretaris Pemuda ICMI Sulawesi Selatan.

 

Dalam pengantarnya, Ketua Pemuda ICMI Sulsel, Dr. Andi Alfian Zainuddin, M.KM., menyampaikan bahwa Milad ke-33 menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi organisasi dalam menjawab tantangan generasi muda.

Ia menekankan pentingnya menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan perspektif kependudukan, akademisi, dan gerakan kepemudaan. Bonus demografi, menurut pokok gagasan yang disampaikan, tidak cukup dipandang sebagai peluang, tetapi membutuhkan kesiapan, kolaborasi, dan langkah nyata dari berbagai pihak.

 

Sementara itu, Dr. Irvan Roberto mengangkat dinamika kependudukan Sulawesi Selatan dalam momentum bonus demografi. Besarnya proporsi penduduk usia produktif merupakan potensi pembangunan yang perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, kapasitas sumber daya manusia, serta kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi.

Dari perspektif kependudukan, tantangannya bukan hanya seberapa besar jumlah penduduk usia produktif, melainkan bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya.

 

Perspektif lain disampaikan Dr. Busman Dahlan Shirat mengajak peserta melihat bonus demografi tidak semata-mata melalui angka ekonomi, tetapi juga melalui kondisi sosial dan struktural yang memengaruhi kehidupan generasi muda.

Persoalan pengangguran terdidik dan pekerjaan rentan menjadi salah satu sorotan. Pertumbuhan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan ketersediaan pekerjaan formal berkualitas. Ketidaksesuaian kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja dapat mendorong sebagian lulusan memasuki pekerjaan dengan perlindungan dan jaminan yang terbatas.

 

Sumber: