Mulawarman menilai, akar persoalan sesungguhnya adalah belum ditemukannya figur calon Ketua DPD I Golkar Sulsel, yang dapat diterima oleh Jusuf Kalla (mantan Ketua Umum Partai Golkar, sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Golkar), sebagai pengganti Munafri Arifuddin (Appi).
Dia menyebutkan, sebagai DPD I yang baru kini bermanuver melakukan pencarian figur Ketua Golkar Sulsel yang "disukai" atau setidaknya dapat diterima, hanya saja, ini dianggap Mulawarman sebagai pekerjaan sulit dan memakan waktu, baik oleh DPP maupun oleh pengurus Golkar Sulsel sendiri.
Kondisi inilah lanjut dia, yang kemudian melatarbelakangi pembentukan kepengurusan sementara dengan masa kerja terbatas.
"DPP memberi waktu paling lama enam bulan, setengah tahun, kepada pengurus bentukan ini untuk mencari figur pengganti Appi. Ini pengakuan tidak langsung bahwa DPP belum siap mengambil keputusan," jelas Mulawarman.
Lebih lanjut, ia menilai Ketua Umum DPP Golkar, Bahlil Lahadalia, berada dalam posisi dilematis. Namun di sisi lain, DPP juga tidak ingin mengambil keputusan sepihak yang berpotensi mengecewakan basis kuat di Sulsel.
"Karena itu, DPP memilih jalan aman dengan meminta Golkar Sulsel mencari calon yang bisa diterima JK," kata Mulawarman.
Ia juga menyoroti komposisi kepengurusan DPD I Golkar Sulsel bentukan DPP yang dinilainya sangat mudah terbaca secara politik.
Menurutnya, orang-orang yang selama ini dikenal dekat dengan Appi hanya sedikit yang diakomodasi, sementara sebagian besar pengurus justru berasal dari luar lingkaran kekuasaan sebelumnya.
"Ini sinyal kuat bahwa DPP memang belum berani menentukan sikap secara tegas," ujarnya.
Yang paling mengkhawatirkan, lanjut Mulawarman, adalah agenda awal pengurus Golkar Sulsel bentukan DPP yang diprediksi akan melakukan penunjukan Pelaksana Tugas (Plt) terhadap sejumlah Ketua DPD II yang selama ini dikenal mendukung Appi.
"Kalau langkah PLT terhadap Ketua DPD pendukung Appi benar-benar dilakukan, itu akan menjadi bom waktu. Golkar Sulsel bisa mengalami sangsangkala atau kekacauan internal yang serius," tegasnya.
Menurut Mulawarman, langkah tersebut justru bertolak belakang dengan cita-cita DPP Golkar yang ingin menyolidkan Golkar Sulsel.
Ia menilai, konsolidasi yang dibangun di atas penyingkiran dan tekanan politik internal hanya akan memperdalam konflik dan menjauhkan Golkar dari kesiapan menghadapi agenda politik besar ke depan.
"Dengan kondisi seperti ini, mimpi DPP Golkar untuk menyolidkan Golkar Sulsel justru terancam gagal di Pemilu 2029 mendatang," tuturnya.
Yang membuat situasi semakin mengagetkan bukan hanya isi dan timing terbitnya SK pengurus baru, melainkan reaksi keras Mulawarman yang selama beberapa tahun terakhir dikenal lebih banyak berperan sebagai negosiator dan pengamat sosial politik yang cenderung tenang dalam menyikapi konflik internal partai.
Mulawarman menulis dengan huruf kapital, "Golkar Sulsel Tifak Akan Pernah Solid. DPP Hanya Memnyimpan Bom Waktu untuk DPD I Golkar Sulsel," demikian kutipan Mulawarman.