DARI Bandara Sultan Hasanuddin, saya memutuskan langsung ke Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar di kampus Tamalanrea. Lokasinya searah ke pusat kota ibukota provinsi Sulawesi Selatan.
Siang itu, akhir Maret 2026, satu orang yang ingin saya temui: Prof Muhammad Ruslin, drg,M.kes,Ph.D,BMM,Subsp.Ortognat-D (K). Dia guru besar dengan spesialis bedah mulut yang memiliki sejumlah hak cipta dan paten. Dipercaya sebagai Wakil Rektor (WR-1) bidang akademik dan kemahasiswaan Unhas sejak 2022 sampai sekarang.
Saya diarahkan masuk lift ke lantai tujuh gedung Rektorat Unhas yang bangunan pintu masuk utamanya berbentuk atap besar bercat merah khas rumah tradisional etnis setempat.
“Bapak lagi di kampus Unhas Gowa (Fak.Teknik), ada acara halal bil halal,” sambut perempuan berjilbab mencegat dekat pintu masuk ruangan.
Untuk mengisi waktu menunggu si empunya ruangan, saya pilih turun ke lantai satu. Lalu menyeberang ke gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), menemui teman “Pramuka” Ruslin saat SMA di Sidrap, Sulsel. Namanya: Mursalim Nohong. Dekan fakultas tertua di Unhas. Sudah profesor juga mengikuti jejak karir sahabatnya itu.
“Anda masih tercatat dosen terproduktif menulis buku yang diterbitkan Hasanuddin University Press?” pancing saya membuka obrolan.
Ia hanya tersenyum. Hari itu Mursalim masih menjalani puasa syawal. “Saya ingin memotivasi teman-teman dosen aktif menulis,” tutur pria yang gelar magisternya dari Unair Surabaya dan S3-nya dari UB Malang.
Ditengah pembicaraan, tiba-tiba handphone saya berdering. “Bapak diminta masuk ke ruangan, makan siang sudah disiapkan. Beliau juga sudah dekat,” kata pria yang mengaku aspri Ruslin.
Saya bergegas kembali ke lantai tujuh gedung Rektorat. Tak begitu lama, Ruslin muncul dan menyapa dengan ramah. Ia memberi isyarat membuka kotak diatas meja. Jadilah makan siang yang telat, ditemani rebusan jagung dan kacang tanah.
“Mau coba kopi khusus racikan saya,” tawar anak tentara kelahiran Pangkajene, Sulsel, 2 Juli 1973 ini.
“Boleh.”
Sosok seperti Prof Ruslin boleh dikata tak banyak dan nyaris komplit. Dia peneliti, tapi juga tetap menekuni bidang klinis. Pun aktif menulis buku ajar dan menjadi editor buku kompilasi dunia kedokteran gigi. Sudah lebih 20 judul buku dihasilkan. Di Unhas, ia tak hanya mengajar juga dipercaya memimpin Rumah Sakit Gigi dan Mulut (2015–2019), lalu Dekan FKG (2019-2022).
Sebagai peneliti dia tahu apa yang sangat dibutuhkan pasien. Sebagai dokter gigi dia juga tahu penelitian apa yang akan bermanfaat bagi pasien. Dan punya jejak gemilang dengan 100 lebih publikasi bereputasi international terindeks Web of Science maupun Scopus.
Ruslin sangat terkenal sebagai ahli bedah mulut dan rahang yang memiliki klinik sendiri. Di kawasan bisnis Panakkukang, Makassar. Banyak pasiennya, terutama dari luar kota/daerah.
Dia tak ingin menjadi sekedar peneliti camidu yang hanya berada di menara gading. Camidu istilah populer dikalangan warga Makassar yang akronim “catat mi dulu” (catat saja dulu,red).