Bahas Dampak Lingkungan, PT SUS Paparkan Sistem Operasional PSEL Makassar ke Warga

Sabtu 30-05-2026,17:23 WIB
Reporter : Fuad
Editor : Muh. Seilessy

DISWAY, SULSEL - Upaya menjawab kekhawatiran warga terkait proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL), PT Sarana Utama Synergi (SUS) menggelar dialog terbuka bersama masyarakat, Jalan Ir Sutami di Kecamatan Tamalanrea, Jumat (29/5/2026).

 

Kegiatan tersebut dihadiri warga sekitar lokasi proyek, RT/RW, lurah setempat, aparat TNI-Polri, serta jajaran PT SUS. 

 

Diskusi yang dipandu influencer Makassar, Rijal Djamal itu pun tampak direspon positif oleh warga yang hadir memadati lokasi.

 

Dalam forum tersebut, Rijal memulainya dengan mempertanyakan alasan lokasi proyek yang dinilai berada dekat dengan permukiman masyarakat.

 

Electrical Engineering PT SUS, Richard, menjelaskan sistem kerja PSEL dirancang menggunakan teknologi modern dengan konsep ruang tertutup untuk meminimalisasi dampak lingkungan.

 

“Semua sampah akan masuk ke bunker tertutup dengan lantai beton dan sistem ventilasi tekanan udara negatif, sehingga bau tidak keluar ke lingkungan,” ujarnya.

 

Menurut Richard, udara dari dalam bunker justru diarahkan menuju ruang pembakaran untuk membantu proses pembakaran sampah menjadi lebih efisien sekaligus mencegah gas berbahaya seperti metana keluar ke udara bebas.

 

Ia juga memastikan proses pembakaran dilakukan pada suhu di atas 1.000 derajat Celsius guna menghilangkan senyawa berbahaya seperti dioksin dan furan yang selama ini menjadi kekhawatiran masyarakat.

 

“Untuk emisi, kami menggunakan sistem filtrasi bertahap seperti SCR, bag filter, dan karbon aktif dengan standar Uni Eropa yang lebih ketat dibanding standar Indonesia,” jelasnya.

 

Selain itu, PT SUS menegaskan proyek PSEL tidak menggunakan air tanah dalam operasionalnya. Sistem pendinginan mesin disebut memanfaatkan air Sungai Tallo yang telah melalui kajian dan mendapatkan izin dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

 

“Kami tidak menggunakan air tanah. Semua kebutuhan pendinginan menggunakan air Sungai Tallo dan hasil riset menunjukkan debitnya mencukupi sepanjang tahun,” kata Richard.

 

Menjawab kekhawatiran warga terkait rekam jejak perusahaan, Richard menyebut SUS Environment sebagai induk perusahaan PT SUS telah banyak mengembangkan proyek waste-to-energy di Tiongkok, Vietnam, Thailand hingga Bangkok.

 

Menurutnya, konsep PSEL di dekat kawasan permukiman juga telah diterapkan di sejumlah negara maju seperti Jepang.

 

“Di Jepang ada Urban Waste-to-Energy yang lokasinya dekat pemukiman warga. Karena dekat masyarakat, maka pengelolaan emisi dan lingkungannya justru dirancang lebih ketat,” tambahnya.

 

Dalam dialog tersebut, warga juga mempertanyakan keterlibatan masyarakat sejak awal proses perencanaan proyek.

 

Richard menjelaskan pihak perusahaan telah melibatkan masyarakat dalam proses penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), termasuk menghadirkan perwakilan warga untuk melihat langsung fasilitas PSEL di Ningbo, Tiongkok.

 

Salah seorang warga Tamalanrea yang ikut dalam kunjungan tersebut, Amran, mengaku melihat langsung operasional fasilitas PSEL di Tiongkok dan tidak menemukan gangguan bau maupun kebisingan.

 

“Apa yang dikhawatirkan masyarakat seperti bau dan suara, waktu saya lihat langsung di sana itu tidak ada,” ujarnya.

 

Meski demikian, Amran mengakui kondisi di Makassar berbeda karena lokasi proyek berada dekat dengan kawasan permukiman warga. Namun menurutnya, pihak perusahaan dan pemerintah telah memberikan jaminan bahwa proyek tersebut aman dijalankan.

 

“Dari PT SUS dan Pemkot disampaikan bahwa itu tidak masalah dan aman,” tuturnya. (*)

Kategori :