“Yang dibutuhkan sekarang bukan saling menghujat, tetapi bekerja sama mencari solusi agar kita bisa keluar dari kondisi darurat sampah,” tegasnya.
Ia menjelaskan perubahan yang diminta pemerintah sebenarnya sederhana, yakni membiasakan masyarakat memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu sejak dari rumah.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Zulkifli mengaku telah membangun empat titik Tempat Edukasi Buang Sampah Organik (TEBA) di wilayah Tello Baru. Fasilitas tersebut memanfaatkan gorong-gorong beton sebagai media pengolahan sampah organik, sementara sisa makanan dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
“Saya membantu membuat empat titik TEBA di wilayah saya. Warga diminta menaruh sisa makanan di situ, kemudian dimanfaatkan pemilik ternak sebagai pakan. Dengan cara sederhana ini, sampah organik tidak lagi dibuang ke TPA,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyediakan tandon air berkapasitas 2.000 hingga 3.000 liter sebagai fasilitas pendukung pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat.
Zulkifli berharap gerakan tersebut dapat diikuti seluruh pengurus Karang Taruna di tingkat kecamatan dan kelurahan serta tokoh masyarakat. Bahkan, ia mendorong pemanfaatan dana kegiatan organisasi untuk penyediaan sarana pengelolaan sampah.
“Saya mengajak teman-teman Karang Taruna agar dana kegiatan lebih diarahkan untuk membeli TEBA, gorong-gorong, atau fasilitas lain yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Harian Karang Taruna Kota Makassar Rijal Djamal mengatakan audiensi tersebut menjadi momentum menyelaraskan program organisasi dengan arah pembangunan Pemerintah Kota Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin.