Merdeka di Tiang, Belum di Kehidupan

Selasa 18-08-2026,08:02 WIB
Oleh: Bang Har-Penulis Kampung Sulse

Senin, 17 Agustus 2026 kemarin, kita kembali berkumpul dalam upacara memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Sang Merah Putih kita kibarkan. Kita berdiri tegak, memberi hormat, lalu bersama-sama meneriakkan satu kata yang sudah 81 tahun kita warisi: Merdeka!

Tetapi setelah upacara selesai, kita kembali kepada kehidupan masing-masing.

Bendera tetap berkibar di tiang. Namun, pertanyaannya: apakah kemerdekaan itu juga sudah berkibar dalam kehidupan kita?

Jangan-jangan, kemerdekaan kita baru sebatas sampai di tiang.

Sebab di luar lapangan upacara, masih banyak rakyat yang harus menghitung uang sebelum membeli kebutuhan sehari-hari. Pajak dan berbagai beban kehidupan terasa semakin berat, sementara ekonomi belum juga memberi ruang yang cukup bagi banyak orang untuk bernapas lega.

Ada yang bekerja keras, tetapi hasilnya hanya cukup untuk bertahan.

Ada yang ingin hidup tenang, tetapi harga kebutuhan terus berjalan naik.

Ada pula yang berharap hukum menjadi tempat mencari keadilan, tetapi kadang justru melihat hukum seperti permainan-tajam kepada yang lemah, tetapi bisa tumpul ketika berhadapan dengan mereka yang punya kuasa.

Di tengah keadaan seperti itu, kata "merdeka" terkadang terasa begitu indah ketika diteriakkan di lapangan, tetapi terasa begitu jauh ketika dibawa pulang ke rumah.

Kita memang sudah merdeka dari penjajahan.

Tetapi apakah rakyat sudah merdeka dari kemiskinan?

Apakah sudah merdeka dari ketakutan?

Apakah sudah merdeka dari ketidakadilan?

Apakah sudah merdeka secara ekonomi, politik, hukum, dan dalam seluruh sendi kehidupan?

Tags :
Kategori :

Terkait