Figur dengan daya tarik elektoral yang kuat sering kali diharapkan mampu memperluas pengaruh partai, memperkuat konsolidasi organisasi, sekaligus menggerakkan mesin politik hingga ke tingkat akar rumput. Artinya, partai tidak hanya memperoleh keuntungan dari popularitas dan jaringan sang figur, tetapi juga berpotensi membebankan tanggung jawab konsolidasi kepadanya.
Jika Appi memutuskan bergabung dengan Demokrat, Gerindra, NasDem, atau partai lainnya, ia tidak hanya membawa elektabilitas, jaringan politik, dan rekam jejak sebagai pendulang suara. Ia juga berhadapan dengan ekspektasi untuk memperkuat struktur dan memperluas pengaruh partai, khususnya di Makassar dan Sulawesi Selatan.
Di sinilah kalkulasi politik menjadi semakin kompleks. Sebab, selain mempertimbangkan hubungan dengan elite partai dan peluang memperkuat posisi politiknya, Appi juga perlu memperhitungkan ketahanan struktural partai yang akan menjadi rumah politik berikutnya.
Salah satu variabel penting yang patut diperhitungkan adalah pembahasan revisi Undang-Undang Pemilu di tingkat nasional, khususnya wacana kenaikan ambang batas parlemen atau parliamentary threshold (PT). Opsi kenaikan ambang batas dari 4 persen menjadi 5 persen, bahkan usulan yang lebih tinggi, dapat mengubah peta persaingan politik nasional dan daerah.
Dalam dinamika pembahasan tersebut, sejumlah partai memiliki sikap yang berbeda. Partai-partai koalisi pemerintah, termasuk Golkar dan Gerindra, disebut memiliki kesepahaman terhadap angka 5 persen. Demokrat cenderung mempertahankan ambang batas yang berlaku, sementara NasDem mengusulkan kenaikan hingga 7 persen.
Perbedaan sikap tersebut menjadi relevan jika dikaitkan dengan perolehan suara masing-masing partai pada Pemilu Legislatif 2024. Gerindra, misalnya, memperoleh sekitar 13,22 persen suara nasional. Dengan capaian tersebut, Gerindra memiliki jarak pengaman yang cukup besar jika ambang batas parlemen ditetapkan sebesar 5 persen maupun 7 persen.
NasDem meraih sekitar 9,65 persen suara nasional. Dengan perolehan itu, NasDem masih berada dalam posisi yang relatif aman jika ambang batas dinaikkan menjadi 5 persen. Bahkan, jika usulan 7 persen yang diajukan partai tersebut diterapkan, NasDem masih memiliki peluang untuk melewati ambang batas, meskipun ruang amannya lebih terbatas.
Sementara itu, Partai Demokrat memperoleh sekitar 7,43 persen suara nasional. Angka tersebut memang masih berada di atas berbagai opsi ambang batas yang diwacanakan. Namun, dibandingkan Gerindra dan NasDem, Demokrat memiliki margin keamanan yang lebih tipis, terutama jika ambang batas dinaikkan menjadi 7 persen.