Pada 2023, angka kebakaran melonjak tajam hingga 395 kasus, yang turut dipengaruhi kondisi kemarau. Selanjutnya, pada 2024 tercatat 383 kasus dan pada 2025 menurun menjadi 258 kasus.
"Hingga akhir Oktober, jumlah kebakaran telah mencapai 402 kasus, melampaui angka tertinggi sebelumnya," tuturnya.
Di balik setiap respons cepat, ada perjuangan petugas yang mempertaruhkan tenaga, berpacu dengan waktu, dan menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Namun, tingginya angka kebakaran menjadi pengingat bahwa tugas pemadam bukan hanya memadamkan api, tetapi juga membutuhkan dukungan fasilitas, penambahan posko, serta kesadaran masyarakat untuk bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran.
Fadli menuturkan, kebakaran lahan kosong dan pembakaran sampah tanpa pengawasan menjadi salah satu faktor yang mendominasi kejadian sepanjang tahun ini.
Selain faktor cuaca, kebakaran juga dapat dipicu korsleting listrik, kebocoran tabung gas, serta penggunaan kompor yang tidak disertai kewaspadaan.
"Karena itu, kami mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati," imbuh mantan Camat Mamajang itu.
Kendati demikian, diakui bahwa di tengah meningkatnya kejadian kebakaran, pihak Damkarmat Makassar masih menghadapi keterbatasan sumber daya untuk menjangkau seluruh wilayah secara optimal.