"Sebab, membangun kota tidak cukup hanya dengan kebijakan pemerintah. Dibutuhkan keterbukaan, dan kemitraan yang kuat dengan pemuda agar Makassar tumbuh menjadi kota yang semakin maju, inklusif, dan memberi ruang bagi setiap setiap generasi untuk berkontribusi," tutur Appi.
Momentum peringatan bersejarah ini menjadi pengingat pentingnya menjaga semangat persatuan sekaligus memperkuat karakter generasi muda yang patriotik, gigih, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bertindak sebagai inspektur upacara. Ia menyampaikan bahwa semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 itu, harus terus hidup dan diwujudkan dalam karakter serta tindakan nyata generasi penerus bangsa.
"Semangat itu harus terus hidup, bukan hanya dalam ingatan kita, tetapi dalam karakter setiap generasi penerus bangsa," demikian pesan dalam amanat yang dibacakan Munafri.
Appi menekankan, kemajuan Indonesia tidak cukup diukur melalui gedung-gedung tinggi, teknologi yang semakin canggih, maupun kekayaan yang berlimpah.
Lebih dari itu, kemajuan sejati harus berangkat dari kualitas manusia, karakter yang kuat, kecintaan terhadap tanah air, dan kepedulian terhadap sesama.
Karena itu, generasi muda diharapkan mampu menanamkan tiga nilai utama, yakni patriotisme, kegigihan, dan empati, sebagai landasan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Menurutnya, patriotisme harus diwujudkan melalui pengabdian dan tindakan nyata bagi bangsa, bukan sekadar diucapkan. Kegigihan berarti tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan maupun kegagalan.