IKA Unhas Siapkan Modal Usaha Mahasiswa Yatim
--
Sementara itu, Direktur AAS Foundation, A Rezky Muliadi, yang turut mengikuti sesi presentasi, menilai program tersebut memiliki nilai sosial yang kuat. Mahasiswa tidak hanya memperoleh dukungan untuk merintis usaha, tetapi juga kesempatan belajar menghadapi tantangan dunia bisnis secara langsung.
“Kegiatan ini merupakan kegiatan sosial. Di mana, selain dibantu, para mahasiswa juga diberi kesempatan untuk belajar berwirausaha,” kata Eki, sapaan Andi Rezky.
Usai mendapat pengarahan, para calon peserta secara bergiliran mempresentasikan gagasan bisnis masing-masing. Muhammad Ramli Rahim, A Rezky Muliadi, dan Direktur Eksekutif IKA Unhas, Salahuddin Alam, turut mengajukan pertanyaan serta memberikan masukan agar setiap rencana bisnis memiliki strategi yang jelas dan prospek keuntungan yang realistis.
Peserta pertama, Reslin Amelia, mahasiswi Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya, memaparkan rencana usaha minuman segar atau fresh drink. Menurutnya, bisnis minuman memiliki peluang yang menjanjikan, terutama jika mampu menawarkan cita rasa dan konsep berbeda dibandingkan produk sejenis.
Suasana presentasi sempat berubah haru ketika peserta kedua, Nur Al May Syahrah Yanwar dari Fakultas Ilmu Budaya, menceritakan latar belakang usaha kue yang digelutinya bersama sang ibu.
Air mata Al May tak terbendung saat ditanya mengenai kepergian ayahnya yang meninggal dunia pada Maret lalu. Ia mengaku, usaha kue tersebut menjadi salah satu sumber penghidupan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Bapak meninggal bulan Maret lalu. Makanya bisnis kue ini saya dan mama yang geluti untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” tuturnya dengan suara bergetar.
Al May terus berusaha menyelesaikan presentasinya meski beberapa kali tak kuasa menahan tangis. Kisahnya menjadi gambaran bahwa bagi sebagian mahasiswa, berwirausaha bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan juga upaya membantu keluarga sekaligus mempertahankan keberlangsungan pendidikan.
Di sela-sela presentasi, para penguji memberikan sejumlah masukan, mulai dari strategi pemasaran hingga perhitungan keuntungan. Salahuddin Alam mengingatkan bahwa tujuan program ini adalah membentuk mahasiswa menjadi pelaku usaha yang mandiri, bukan sekadar penerima bantuan.
“Untuk adik-adik, pahami bahwa kami ingin kalian belajar berwirausaha pada program ini. Tetapi usaha itu harus dilakukan oleh kalian. Bukan orang lain,” kata Salahuddin.
Dari 33 calon peserta, mayoritas mengajukan rencana usaha makanan dan minuman. Sejumlah peserta lainnya menawarkan bisnis sembako, konveksi, penjualan pakaian, jasa makeup artist, hingga usaha menjahit.
Namun, ada pula gagasan bisnis yang cukup berbeda. Putri Salsabila, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, mengajukan rencana usaha penjualan sekam padi, bisnis yang sebelumnya telah digeluti kedua orang tuanya.
Setelah kedua orang tuanya tiada, Putri mengambil peran untuk melanjutkan usaha tersebut sebagai sumber penghidupan sekaligus membantu membiayai kuliahnya.
“Kami membeli sekam dari pabrik beras lalu kami jual ke perusahaan peternakan. Sekam digunakan untuk alas kandang,” kata Putri optimistis.
Ia menjelaskan, usaha tersebut menghasilkan margin lebih dari Rp1.000 per karung. Meski terlihat sederhana, bisnis ini memiliki pasar tersendiri karena sekam padi dibutuhkan perusahaan peternakan untuk alas kandang.
Sumber:


