DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

TAKBIR DI DALAM DIRI

TAKBIR DI DALAM DIRI

Mustamin Raga--

Berapa banyak kecelakaan yang terjadi setiap malam takbiran? Berapa banyak anak muda yang pulang bukan membawa kemenangan, tetapi luka? Berapa banyak orang tua yang cemas menunggu anaknya kembali dari konvoi yang katanya “sekadar keliling”? Kita jarang menghitung itu. Kita lebih sibuk menghitung seberapa panjang iring-iringan kendaraan.

Larangan itu, jika kita lihat lebih dalam, sesungguhnya adalah ajakan untuk kembali. Bukan mundur, tetapi kembali ke esensi. Kembali ke masjid. Kembali ke mushalla. Kembali ke ruang di mana takbir tidak perlu bersaing dengan suara mesin.

Karena, takbir bukan soal seberapa jauh ia terdengar, tetapi seberapa dalam ia meresap.

Apa artinya takbir yang menggema hingga sekian kilometer, jika ia tidak sempat singgah di hati yang mengucapkannya?

Apa artinya konvoi panjang, jika setelah itu kita tetap sama—tidak lebih sabar, tidak lebih jujur, tidak lebih peduli?

Bukankah kemenangan sejati dari puasa adalah kemenangan atas diri sendiri?

Kita sering mengukur segala sesuatu dari yang tampak. Semakin ramai, dianggap semakin bermakna. Semakin heboh, dianggap semakin hidup. Padahal tidak semua yang riuh itu bernilai. Dan tidak semua yang sunyi itu kosong.

Takbiran di masjid mungkin tidak viral. Tidak menarik perhatian kamera. Tidak menghasilkan video panjang yang bisa dibagikan di media sosial. Namun justru di situlah ia menemukan kembali kehormatannya.  Di antara saf-saf yang rapat, di antara suara yang tidak saling mengalahkan, di antara hati yang mungkin diam-diam bergetar—takbir kembali menjadi apa adanya: pengakuan kecil manusia di hadapan kebesaran Tuhan.

Konvoi kendaraan mungkin pernah punya makna di masa lalu, ketika ia menjadi cara untuk menyebarkan kabar dan menyatukan masyarakat. Namun hari ini, dalam konteks jalan yang padat, kendaraan yang tak terhitung, dan risiko yang semakin nyata, ia kehilangan relevansinya. Bukan karena tradisinya salah, tetapi karena konteksnya telah berubah. Dan kebijaksanaan selalu lahir dari kemampuan membaca perubahan.

Apa yang dulu baik, belum tentu baik hari ini. Apa yang dulu relevan, belum tentu tepat untuk sekarang. Maka keputusan untuk menghentikan konvoi di Kota Makassar oleh Walikota Makassae bukanlah bentuk penolakan terhadap tradisi, melainkan upaya menyelamatkan makna dan esensi Takbir agar tidak semakin jauh terseret oleh euforia.

 

Malam takbiran seharusnya bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, tetapi siapa yang paling tulus memaknai.

Bukan tentang siapa yang paling panjang konvoinya, tetapi siapa yang paling panjang sabarnya setelah Ramadan.

Bukan tentang berapa banyak jalan yang dilalui, tetapi seberapa jauh hati kita kembali kepada-NYA. Karena takbir tidak membutuhkan jalan raya. Ia hanya membutuhkan ruang di dalam diri. Dan mungkin, justru di dalam diri itulah  kita terlalu lama tidak pernah berkunjung.

Gerhana Alauddin, 18 Maret 2026

Sumber: