DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Zulfikar dan Harapan Baru Pengelolaan Sampah Makassar

Zulfikar dan Harapan Baru Pengelolaan Sampah Makassar

--

Oleh: Mashud Azikin

Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar

 

DISWAY, SULSEL - Perubahan besar sering kali tidak lahir dari pidato para pemimpin, ruang rapat, atau dokumen kebijakan. Ia justru tumbuh dari pekerjaan-pekerjaan sederhana yang dilakukan dengan konsisten oleh orang-orang yang jarang mendapat sorotan. Itulah yang kami temukan saat berjumpa dengan Zulfikar, anggota Satuan Tugas Kebersihan Kelurahan Kassi-Kassi, Kecamatan Rappocini. Di tengah rutinitasnya mengangkut karung berisi sampah organik yang telah dipilah warga, kami melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar aktivitas pengangkutan sampah. Kami melihat sebuah kebijakan mulai bekerja, kesadaran warga mulai tumbuh, dan harapan tentang masa depan pengelolaan sampah Kota Makassar mulai menemukan bentuknya.

 

Pertemuan itu berlangsung tanpa agenda khusus. Kami hanya berhenti sejenak ketika melihat Zulfikar memasukkan sampah organik ke dalam karung-karung yang telah disiapkan. Gerakannya tenang, tanpa tergesa-gesa dan tanpa mencari perhatian. Bagi Zulfikar, mungkin itu hanyalah bagian dari tugas sehari-hari. Namun bagi kami, pemandangan sederhana tersebut menjadi bukti bahwa perubahan selalu berawal dari tindakan nyata, bukan sekadar wacana.

 

Apa yang dilakukan Zulfikar merepresentasikan perubahan paradigma pengelolaan sampah yang mulai diterapkan di Indonesia. Sejak 1 Agustus 2026, pemerintah menghentikan praktik open dumping dan mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya. Kebijakan itu bukan hanya mengubah tata kelola persampahan, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Sampah tidak lagi diperlakukan sebagai sesuatu yang cukup dipindahkan ke tempat pembuangan akhir, melainkan harus diselesaikan sedekat mungkin dengan tempat ia dihasilkan.

 

Di Kelurahan Kassi-Kassi, perubahan paradigma itu mulai terlihat. Warga memilah sampah organik dari rumah tangga, kemudian petugas mengangkutnya secara terpisah. Rangkaian sederhana tersebut sesungguhnya menjadi fondasi sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Tanpa pemilahan dari sumber, berbagai teknologi pengolahan—mulai dari bank sampah, rumah kompos, biodigester, hingga TPS3R—tidak akan bekerja secara optimal.

 

Karena itu, perjumpaan dengan Zulfikar bukan sekadar kisah tentang seorang petugas kebersihan. Ia adalah pengingat bahwa perubahan kota tidak selalu dimulai dari kebijakan yang besar, melainkan dari kesediaan setiap warga menjalankan tanggung jawabnya. Dari lorong-lorong kecil seperti di Kassi-Kassi, harapan tentang Makassar yang lebih bersih dan berkelanjutan perlahan mulai dibangun. (*)

Sumber: