Anak Pulau ke Panggung Dunia
--
"Kawan ini calon Plt Bupati di Halmahera.., " celutuk Agus menunjuk ke arah Ikram. Ia sendiri hanya tersenyum sembari berkata "Aminn.. ".
Kini, lebih lima tahun kemudian, pria yang saya kenal tersebut telah memasuki medan "pengabdian baru" yang sama sekali berbeda dan dirinya pun tak pernah membayangkan sebelumnya. Itulah skenario Allah dan jalan takdirnya.
Lahan pengabdiannya bukan lagi atasan formal di kantor. Tantangannya adalah masyarakat yang dipimpinnya agar lebih sejahtera dan keberlanjutan pembangunan.
Ia hanya berpindah cara memandang daerah. Dulu daerah dipertahankan sebagai wilayah kedaulatan. Kini harus dijaga,dirawat dan dimanfaatkan potensi SDA-nya sebesar-besarnya menghasilkan income yang kembali kepada masyarakat.
Posturnya kecil dan tidak tinggi.Namun gerakannya gesit. Ikram adalah putra Ternate, sebuah pulau kecil yang berlimpah cengkeh dan
Salah satu nasihatnya berbunyi: _Moku-moku kore mie. Paga gudu yo sose gudu. Jaga doro laha-laha kara no toro. Afa mara sala doro. Juanga ruba toma luleo._
Kurang lebih maknanya: ombak boleh pecah dan bertebaran, tetapi tunggulah ombak yang baik untuk diikuti. Jangan salah memilih, sebab bahtera bisa hancur.
Itulah filsafat kepemimpinan. Pemimpin bukan hanya harus berani berlayar. Ia harus pandai membaca gelombang.
Di Halmahera Tengah, gelombang itu bernama ikan, nikel, air, kebun, teknologi, hilirisasi dan nasib jutaan petani dan nelayan.
Salah "membaca ombak", kebijakan bisa karam sebelum sampai ke pulau harapan. (Rusman Madjulekka)
Sumber:


