Brand Paling Favorit Indonesia 2023, Indomie Masih Peringat Pertama

Brand Paling Favorit Indonesia 2023, Indomie Masih Peringat Pertama

<strong>diswaysulsel.com, JAKARTA </strong>- Kantar Indonesia, Divisi Worldpanel, baru saja mengeluarkan laporan terbaru mereka, yaitu Brand Footprint Indonesia 2023. Brand Footprint adalah penelitian tahunan yang dilakukan oleh Kantar untuk mengukur merek yang paling dipilih oleh konsumen. Kategori ini mencakup lebih dari 550 merek di lima sektor FMCG, yaitu makanan, minuman, produk susu, perawatan rumah, dan perawatan tubuh. Setelah melakukan penelitian Kantar Indonesia ungkap brand paling favorit di Indonesia, di mana Indomie pertahankan posisinya. Dari hasil penelitian tersebut, Indomie tetap mempertahankan posisi teratas dari the Most Chosen FMCG Brand di Indonesia. Posisi berikutnya di peringkat 2 hingga 6 juga diduduki brand yang sama seperti tahun sebelumnya, yaitu Soklin, Mie Sedaap, Royco, Roma, dan Kapal Api. Selain itu, Cimory, Chiki, dan Chitato dinobatkan sebagai rising star brand karena berhasil menembus peringkat 100 teratas di Most Chosen FMCG Brands tahun ini. "Dalam studi tahunan Brand Footprint, Kantar menggunakan sebuah metode yang disebut CRP untuk mengukur sejauh mana suatu brand berhasil menjangkau konsumen," kata Senior Marketing Manager of Kantar Indonesia, Worldpanel Division, Corina Fajriyani di Jakarta, Jumat (23/6/2023). CRP merupakan sebuah matriks yang menggabungkan tingkat penetrasi, yaitu jumlah rumah tangga yang membeli brand tersebut, dengan frekuensi pembelian brand tersebut oleh konsumen. "Dengan kata lain, nilai CRP memberikan gambaran tentang seberapa dekat hubungan antara brand tersebut dengan konsumen,” katanya. Brand Footprint Indonesia tahun ini mewakili 97 persen rumah tangga di berbagai kota besar dan kota kecil di seluruh daerah urban dan rural Indonesia dari 70 juta populasi rumah tangga. Studi menemukan, rata-rata jumlah merek yang dibeli oleh sebuah rumah tangga di Indonesia mencapai 96, jumlah yang tidak berubah dari tahun sebelumnya. Sementara frekuensi belanja produk FMCG mengalami penurunan sedikit lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Sumber: