Baru Dikerjakan, Hamka B Kady Sesalkan Jalan Nasional Urip–Perintis Makassar Kembali Rusak
Anggota Komisi V DPR RI, Hamka B Kady. --
DISWAY SULSEL Anggota Komisi V DPR RI, Hamka B Kady (HBK), menyoroti kerusakan ruas Jalan Nasional di kawasan Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan Kota Makassar. Padahal ruas jalan tersebut baru saja direhabilitasi.
Proyek rehabilitasi ruas jalan nasional tersebut dikerjakan dalam satu paket sejak Oktober hingga Desember 2025. Pekerjaan pengaspalan dilakukan di dua titik, yakni sepanjang 700 meter di Jalan Urip Sumoharjo dan lebih 2 kilometer di Jalan Perintis Kemerdekaan, dengan total anggaran mencapai Rp22 miliar bersumber dari APBN 2025.
“Nanti saya panggil atau tanyakan ke Balai Jalan Nasional sebagai pelaksana dan penanggung jawab kegiatan tersebut,” ujar Hamka kepada wartawan, Kamis, (15/1/2025).
Ia menegaskan, kerusakan jalan dalam waktu singkat tidak dapat dibenarkan, terlebih dengan anggaran yang cukup besar.
“Tidak benar itu kalau anggarannya besar tapi belum sampai satu bulan sudah rusak. Saya pastikan ini akan saya tindak lanjuti. Tentu kita sesalkan jika seperti itu,” tegas legislator Senayan asal Sulawesi Selatan tersebut.
Diketahui, proyek rehabilitasi jalan tersebut merupakan pekerjaan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sulsel yang dilaksanakan oleh kontraktor PT Mareraya Multipratama Jaya. Informasi yang dihimpu, kerusakan jalan diduga dipicu oleh tingginya curah hujan.
Dosen Teknik Sipil Universitas Hasanuddin (Unhas), Ardy Arsyad, menilai kontraktor tidak bisa serta-merta menyalahkan faktor hujan atas kerusakan aspal yang baru selesai dikerjakan di ruas Jalan Perintis Kemerdekaan–Urip Sumoharjo.
Menurut Ardy, kerusakan berupa pengelupasan aspal lebih disebabkan oleh kualitas lapisan aspal dan lemahnya pengendalian mutu saat pelaksanaan pekerjaan.
“Saya lihat juga kalau lewat. Masalahnya ini adalah kualitas lapisan aspal yang dikerjakan pada musim hujan. Tantangannya, kalau pekerjaan jalan, khususnya pengaspalan dilakukan saat musim hujan, maka kontrol kualitasnya harus maksimal,” kata Ardy kepada wartawan, Rabu (14/1/2026).
Ia menjelaskan, pengaspalan sebenarnya masih memungkinkan dilakukan di musim hujan, asalkan memperhatikan kondisi lapangan, terutama limpasan air.
“Bisa saja sebenarnya di musim hujan, tetapi harus benar-benar diperhatikan. Pertama, soal limpasan air saat pengaspalan, apakah lapisan aspal lama itu dalam kondisi kering atau tidak,” jelasnya.
Ardy menegaskan, pengaspalan tidak boleh dilakukan saat hujan karena aspal tidak akan mengikat dengan baik pada lapisan jalan.
“Kalau kondisinya basah, lawannya aspal itu air. Dia tidak bisa mengikat. Begitu ada air, aspalnya akan pecah,” ujarnya.
Selain itu, faktor temperatur aspal juga sangat menentukan kualitas hasil pekerjaan. Hujan yang turun saat proses penghamparan dapat menurunkan suhu material secara drastis sehingga mutu aspal tidak tercapai.
Sumber:

