Ketua Tim LACAK : Demi Warga Miskin, Rela Kerja Berat dengan Anggaran Terbatas
RAKOR LACAK---Ketua Lacak Centre, Kaharuddin Moedji memberikan sambutan pada Rakor Lacak di Baruga Tinggi Mae, Kamis (15/1/2026)--
HARIAN DISWAY,GOWA--- Misi kemanusiaan tengah diemban Tim Layanan Cepat Atasi Kemiskinan (LACAK) Kabupaten Gowa. Demi membantu warga miskin, Tim Lacak rela kerja berat dengan anggaran terbatas.
Meski misi yang diemban sangat mulia, namun Lacak tak luput dari sorotan. Khususnya terkait alokasi anggaran yang dikucurkan Pemda Gowa untuk Lacak.
Ketua Tim Lacak Kabupaten Gowa Kaharuddin Muji menegaskan, bahwa sorotan terhadap anggaran LACAK harus dilihat secara utuh dan proporsional, bukan semata dari besaran angka, tetapi dari beban kerja lapangan dan dampak nyata yang telah dirasakan masyarakat miskin ekstrem.
Menurut Kaharuddin, tantangan utama penanggulangan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Gowa bukan pada kekurangan program, melainkan ketidakakuratan data dan masih banyaknya keluarga miskin ekstrem yang luput dari intervensi.
“Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kemiskinan di Gowa masih 6,85 persen pada 2024 dengan kemiskinan ekstrem 0,14 persen. Angka ini kecil secara persentase, tetapi di lapangan berarti masih ada ratusan keluarga yang hidup dalam kondisi sangat rentan dan belum seluruhnya tersentuh bantuan,” ujar Kaharuddin via press rilis yang dikirim ke Harian Disway, Kamis (22/1/2026).
Lelaki berambut gondrong itu menjelaskan, temuan tersebut juga mengemuka pada pelaksanaan Program Gowa Sejahtera (Gowa Masunggu) dalam 100 hari kerja pertama Bupati dan Wakil Bupati Gowa 2025–2030. Banyak keluarga tercatat miskin ekstrem tetapi faktanya tidak, sementara keluarga miskin ekstrem yang nyata justru belum masuk dalam basis data resmi.
“Di sinilah LACAK bekerja. Kami tidak menunggu laporan. Kami turun langsung ke rumah-rumah warga. Data kami akan melengkapi DTSEN karena lebih update dan berbasis kondisi nyata di lapangan” tegasnya.
Kerja Nyata LACAK di Lapangan
Kaharuddin Muji menekankan bahwa LACAK menjalankan pendataan aktif berbasis asesmen komprehensif melalui Sahabat LACAK di 167 desa dan kelurahan. Relawan melakukan kunjungan rumah ke rumah untuk memotret kondisi riil warga: kesehatan, pendidikan, pekerjaan, aset, kondisi rumah, kepemilikan identitas, hingga riwayat bantuan. Data dihimpun menggunakan indikator BPS, BKKBN, dan Kementerian Sosial, lalu ditindaklanjuti melalui aplikasi Si LACAK, melahirkan Rekomendasi dengan melampirkan hasil pendataan kepada Pemerintah Kabupaten Gowa melalui Dinas Sosial.
Dari hasil kerja pendataan di lapangan, kinerja nyata LACAK sepanjang 2025 telah dirasakan langsung masyarakat, antara lain, 23 rumah tidak layak huni (Rutilahu) selesai diperbaiki. Juga 18 rumah lainnya masih dalam proses pembangunan atau telah direkomendasikan.
Tak cuma sampai disitu. Lacak juga menfasiitasi akses air bersih PDAM untuk 3 rumah, bantuan biaya perawatan dan pengobatan bagi 15 kepala keluarga, bantuan modal usaha dan program Z-Mart untuk 13 kepala keluarga, serta bantuan sembako bagi keluarga miskin.
“Itu bukan angka di atas kertas. Di baliknya ada keluarga yang kini tinggal lebih layak, bisa berobat tepat waktu, dan mulai bangkit lewat usaha kecil,” sebut Kaharuddin.
Soal Anggaran: Sangat Minim Dibanding Beban Tugas
Menanggapi isu anggaran, Kaharuddin menjelaskan bahwa Rp213.500.000 untuk 5 bulan pada 2025 dan rencana Rp500.000.000 untuk 12 bulan pada 2026, dengan target relawan yang terlibat sebanyak 867 orang, yang tersebar pada 18 Kecamatan, 167 desa/kelurahan dan 675 dusun sekabupaten Gowa , dengan anggaran yang tersedia justru sangat terbatas bila dibandingkan dengan cakupan dan beratnya tugas di lapangan.
Sumber:

