Membedah Fenomena “Whip Pink” : Ilusi Tawa yang Melumpuhkan
--
Oleh : dr. Irwan Ashari M.Med.Ed
(Dosen Fakultas Kedokteran & Ilmu Kesehatan Unismuh Makassar
DISWAY, SULSEL - Beberapa waktu yang lalu, saya merasa tidak nyaman ketika berselancar di media sosial. Di sela-sela konten hiburan dan gaya hidup, muncul video anak-anak muda menghirup gas dari tabung kecil berwarna pink. Mereka tertawa. Teman-temannya ikut tertawa. Kolom komentar dipenuhi emoji dan reaksi dari netizen.
Saya mendiskusikan topik ini di meja kopi bersama teman sejawat dokter lainnya, dan kami sepakat bahwa tren ini merupakan sebuah alarm tanda bahaya.
Tabung kecil yang kini populer dengan sebutan “whip pink” sebenarnya berisi dinitrogen oksida(N2O). Dalam dunia medis, gas ini secara terkontrol sebagai anestesi. Namun ketika para selebgram menggunakan secara bebas, sembarangan dan berlebihan, gas ini dapat mengganggu pasokan oksigen ke otak. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut hipoksia.
Otak manusia tidak dirancang untuk kekurangan oksigen. Ia bekerja seperti sistem listrik yang harus stabil. Ketika suplai terganggu, sel-sel saraf mulai rusak. Kerusakan itu tidak selalu terasa saat itu juga. Justru sering datang perlahan: mulai dari kesemutan, mati rasa, gangguan keseimbangan, hingga kelumpuhan. Dan ketika saraf sudah rusak, seringkali ia bersifat permanen; tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dicegah agar tidak rusak lebih jauh.
Tawa yang terlihat di layar ponsel itu bisa jadi hanya berlangsung beberapa detik. Setelahnya, dampak fatal bisa seumur hidup.
Namun persoalan ini bukan hanya tentang medis. Ini juga tentang fenomena sosial yang lebih besar. Kita hidup di era ketika perilaku berisiko tinggi dapat berubah menjadi simbol eksistensi. Sesuatu yang berbahaya dikemas menjadi tampak lucu, estetik, dan “gaul”. Warna pink pada tabung itu bukan sekadar desain. Ia menjadi kamuflase—membuat sesuatu yang mengerikan tampak lucu dan imut.
Mengapa begitu mudah ditiru?
Remaja berada pada fase mencari identitas. Ketakutan akan tertinggal atau tidak dianggap relevan—yang sering disebut FOMO, atau fear of missing out—membuat banyak anak muda terdorong mencoba apa pun yang sedang viral. Masalahnya, tidak semua yang viral itu aman.
Yang lebih memprihatinkan, figur publik yang memiliki pengaruh besar justru kerap menampilkan perilaku tidak sehat. Padahal setiap konten yang mereka unggah berpotensi ditiru ribuan, bahkan jutaan pasang mata yang lebih muda. Beberapa Selebgram menjadi figur yang surplus follower, tapi defisit keteladanan.
Di tengah banjir informasi, kita justru menghadapi kemiskinan literasi. Informasi tersedia di mana-mana, tetapi kemampuan menyaringnya tidak otomatis ikut tumbuh.
Keluarga adalah benteng terakhir
Peran orang tua hari ini jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Tiap generasi memiliki tantangannya masing-masing. Dan hari ini, tugas orang tua tidak terbatas hanya untuk memastikan anak mendapatkan makanan dan sekolah yang layak. Ada tugas tambahan yang tidak kalah penting, yaitu menjadi kurator informasi. Orang tua diharapkan agar selalu membuka ruang diskusi. Bertanya, bukan hanya melarang. Menjelaskan, bukan sekadar memarahi.
Menjadi orang tua yang adaptif bukan berarti permisif terhadap semua yang berlabel tren. Justru di era digital, ketegasan yang disertai penjelasan rasional adalah bentuk kasih sayang.
Saya tidak menulis ini untuk menghakimi. Kita semua pernah menjadi remaja yang ingin diakui. Kita semua pernah ingin terlihat keren. Tetapi ada batas yang tidak untuk dinegosiasikan: kesehatan dan keselamatan!
Saya selalu percaya bahwa anak muda di Makassar punya potensi yang luar biasa besar untuk membangun bangsa ini. Saya–dan kita semua– tentu tidak ingin melihat generasi muda kehilangan masa depan karena sesuatu yang mereka anggap sekadar hiburan. Kita tidak membutuhkan anak muda yang “melayang” sesaat, lalu menanggung kerusakan saraf yang permanen, karena kecerobohan di usia muda. Kita butuh anak muda yang produktif, bukan anak muda yang aktif tapi destruktif.
Tugas kita bersama—tenaga kesehatan, pendidik, orang tua, dan masyarakat—adalah memastikan bahwa yang viral tidak selalu menjadi panutan. Bahwa yang tampak menyenangkan belum tentu aman.
Dan kali ini, kita berharap pemerintah bisa bergerak cepat mengantisipasi penularan tren berbahaya ini. Walaupun biasanya, jempol netizen lebih cepat dari gerak birokrasi. J
Sumber:

