Dari Muslur ke Konsolidasi: Menjaga Api Golkar Tetap Menyala di Akar Rumput
--
oleh: Mashud Azikin (Kader Golkar)
DISWAY, SULSEL - Ada satu hal yang kerap luput dalam membaca dinamika partai politik: bahwa kekuatan sejatinya tidak lahir dari pidato di panggung besar, melainkan dari percakapan-percakapan kecil di tingkat paling bawah. Dari situlah arah dibentuk, loyalitas dipupuk, dan kepercayaan dijaga.
Rencana Musyawarah Kelurahan (Muslur) dan pembentukan Karakterdes menemukan relevansinya yang konkret dalam peristiwa Temu Kader dan Konsolidasi Partai Golkar Kota Makassar pada 16 Maret 2026 di Sekretariat DPD Golkar Makassar. Kehadiran langsung Wali Kota Makassar yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kota Makassar, H. Munafri Arifuddin, memberi makna lebih dari sekadar agenda rutin: ia menjadi penegasan bahwa garis komando partai sedang ditarik lurus dari atas hingga ke akar.
Di forum itu, kita tidak hanya melihat konsolidasi struktural, tetapi juga upaya menyatukan energi. Ini penting, sebab dalam banyak kasus, partai politik sering kali kuat di atas, tetapi tercerai-berai di bawah. Konsolidasi semacam ini menjadi jembatan—menghubungkan visi kepemimpinan dengan kerja-kerja lapangan.
Apa yang sebelumnya tampak sebagai konsep—Muslur dan Karakterdes—di forum tersebut mulai menemukan bentuknya sebagai gerakan nyata. Di sinilah letak signifikansinya: bahwa agenda kelurahan bukan lagi urusan pinggiran, tetapi telah naik menjadi prioritas strategis partai di tingkat kota.
H. Munafri Arifuddin, dalam kapasitasnya sebagai ketua sekaligus kepala daerah, berada pada posisi yang unik. Ia tidak hanya berbicara tentang kemenangan politik, tetapi juga tentang tanggung jawab pemerintahan. Dengan demikian, konsolidasi yang dilakukan tidak semata-mata berorientasi elektoral, tetapi juga menyentuh dimensi pelayanan publik.
Di titik ini, Karakterdes menjadi sangat relevan. Kader penggerak teritorial yang dirancang sebanyak 100 orang per kelurahan itu dapat menjadi perpanjangan tangan yang efektif—bukan hanya dalam menggalang dukungan, tetapi juga dalam menyerap aspirasi dan mengawal program pembangunan. Mereka bisa menjadi “mata dan telinga” partai sekaligus pemerintah di tengah masyarakat.
Namun, kita juga perlu menjaga agar semangat konsolidasi tidak berhenti sebagai euforia sesaat. Banyak partai mampu menggelar pertemuan besar, tetapi gagal menjaga ritme setelahnya. Konsolidasi sejati justru diuji setelah forum selesai: ketika para kader kembali ke wilayah masing-masing, apakah mereka bergerak atau justru kembali diam.
Di sinilah Muslur mengambil peran penting sebagai tindak lanjut yang konkret. Ia menjadi ruang untuk menerjemahkan arahan besar dalam bahasa kerja yang lebih operasional di tingkat kelurahan. Sementara itu, Karakterdes menjadi instrumen untuk memastikan bahwa kerja tersebut benar-benar menyentuh masyarakat.
Konsolidasi 16 Maret itu, dengan demikian, dapat dibaca sebagai titik tolak—bukan titik akhir. Ia adalah semacam “start engine” bagi mesin politik Golkar Makassar yang sedang dibangun ulang dari bawah. Mesin yang tidak hanya bergerak saat pemilu, tetapi terus bekerja dalam keseharian.
Kita tentu berharap bahwa apa yang dirancang ini tidak terjebak pada formalitas. Sebab masyarakat hari ini tidak lagi mudah terpesona oleh simbol. Mereka menilai dari kehadiran, dari konsistensi, dan dari manfaat nyata.
Jika Golkar mampu menjaga kesinambungan antara forum konsolidasi di tingkat kota dengan kerja-kerja riil di tingkat kelurahan, maka ia sedang membangun sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan politik. Ia sedang membangun kepercayaan—modal paling mahal dalam demokrasi.
Dan pada akhirnya, politik akan kembali ke titik asalnya: bukan tentang siapa yang paling lantang berbicara, tetapi siapa yang paling setia hadir. Di lorong-lorong Makassar, di rumah-rumah sederhana warga, di situlah masa depan partai sesungguhnya sedang ditentukan.
Sumber:

