DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Appi, Musda Golkar, dan Jalan Sunyi Seorang Politisi

Appi, Musda Golkar, dan Jalan Sunyi Seorang Politisi

--

DISWAY, SULSEL– Panggung politik Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali menyuguhkan dinamika yang menguji mentalitas para elitnya. Menjelang penutupan Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD I Partai Golkar Sulsel di Makassar, ruang kompetisi perlahan terkunci oleh mekanisme administrasi dan diskresi pusat. Bagi sebagian pihak, skenario aklamasi mungkin terlihat sebagai akhir dari sebuah rivalitas. Namun, dalam kacamata budaya politik Bugis-Makassar, ini justru merupakan awal dari pembentukan lanskap politik baru yang jauh lebih bermakna.

 

Di tengah puncak tensi politik ini, keputusan Munafri Arifuddin (Appi) untuk menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci memancing beragam spekulasi. Tak sedikit yang membacanya sebagai bentuk kekecewaan atau bahkan "salam perpisahan" dari partai Beringin yang turut ia besarkan. Namun, narasi tersebut terbantahkan oleh pemahaman mendalam terhadap karakter dan kultur politik sang figur.

Jeda Spiritual dan Makna Siri' na Pacce

Pengamat politik, Arief Wicaksono, menilai langkah Appi tidak bisa diukur dengan kalkulasi matematis jangka pendek. "Keberangkatan Appi ke Mekkah di tengah badai politik bukanlah pelarian atau tanda kerapuhan. Itu adalah jeda spiritual yang krusial, sebuah kesadaran untuk menjauhkan diri dari syahwat kekuasaan yang fana," tegas Arief.

Dalam kosmologi sosial Sulsel, politik melampaui sekadar perebutan tongkat komando; ini adalah tentang menjaga martabat di segala medan pengabdian. Falsafah Siri' na Pacce mengajarkan bahwa ketika ruang aktualisasi dibatasi oleh sistem, reaksi emosional yang meledak-ledak justru akan menggerus kewibawaan. Masyarakat Sulsel tidak menghormati politisi yang mengamuk saat keinginannya tak tercapai, melainkan menaruh hormat tinggi pada figur yang menjunjung Sabar (ketabahan) dan Te'ne (keikhlasan).

Dengan memilih tetap tenang dan mempertahankan komitmennya sebagai kader, Appi sejatinya sedang berkomunikasi dengan publik. Ia tidak membalas ketidakadilan struktural dengan konfrontasi, melainkan merangkul realitas dengan jiwa yang lapang. Langkah ini menempatkannya pada moral high ground, mengubah citranya dari politisi yang berebut kekuasaan menjadi negarawan yang tahu kapan harus menahan diri demi soliditas organisasi.

Konsolidasi Akar Rumput dan Legitimasi Hati

Senada dengan hal tersebut, Ketua DPD Partai Golkar Kota Makassar periode 2021–2025, Barly RM, memandang ketenangan Appi sebagai instruksi tak tertulis bagi para kader.

"Bagi masyarakat akar rumput di Makassar, ketenangan Appi harus dimaknai sebagai sinyal untuk mengonsolidasikan barisan, bukan perintah untuk bubar jalan mencari selamat masing-masing. Struktur formal partai di tingkat provinsi boleh saja berganti nakhoda, dan itu adalah realitas organisasi yang harus dihormati. Namun, sejarah akan selalu mencatat bahwa legitimasi sejati seorang pemimpin tertanam kuat di dalam hati sanubari rakyatnya," papar Barly.

Politik yang Bergerak Melingkar

Arief Wicaksono menambahkan bahwa absennya Appi di forum Musda justru menjadi "sekat perlindungan" yang membebaskannya. "Tanpa beban, Appi memiliki ruang gerak yang lebih cair untuk kembali ke basis massa, mendengarkan keluh kesah masyarakat, dan merawat ikatan emosional dengan para kader melalui prinsip Sipakatau (saling memanusiakan)."

"Politik itu selalu bergerak melingkar, tidak pernah permanen. Kepemimpinan yang baik adalah yang ditempa oleh waktu, bukan lahir dari fasilitas instan secarik diskresi. Kelak, ketika target elektoral menuntut pembuktian nyata, lembar-lembar survei ilmiah dan kerja lapangan yang akan menjadi pemandu utama," urai Arief.

Menutup pernyataannya, Barly RM menegaskan bahwa Musda kali ini hanyalah halte pemberhentian, bukan garis finis. "Bagi seluruh relawan dan simpatisan setia Munafri Arifuddin, tidak ada alasan untuk menunduk. Rapatkan barisan dalam keheningan yang terukur. Perjalanan politik masih sangat panjang menuju tahun-tahun politik ke depan," pungkasnya

Sumber: