Klaim Proaktif, Langkah Menuju Rumah Sakit Sehat dan Layanan Prima
Angriany Rauf (Direktur Perencanaan Keuangan RSUP Tajuddin Chalid)--
Rumah sakit sering kali dipahami dari apa yang terlihat di depan mata. Dokter yang memeriksa pasien, perawat yang memberikan pelayanan, obat yang tersedia, ruang perawatan yang nyaman, hingga teknologi kesehatan yang digunakan.
Semua itu memang penting. Namun, ada bagian lain yang tidak selalu terlihat oleh pasien, tetapi sangat menentukan apakah pelayanan rumah sakit dapat terus berjalan secara berkesinambungan. Bagian itu adalah tata kelola keuangan.
Rumah sakit tidak hanya membutuhkan pelayanan medis yang berkualitas, tetapi juga membutuhkan fondasi keuangan yang sehat. Sebab, pelayanan kesehatan membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit.
Obat harus tersedia, bahan medis habis pakai harus dipenuhi, alat kesehatan harus dirawat, fasilitas harus dipelihara, sistem informasi harus dikembangkan, dan tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung harus mendapatkan haknya sesuai ketentuan. Dengan kata lain, pelayanan kesehatan dan kesehatan keuangan rumah sakit merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Di sinilah pengelolaan klaim Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi bagian penting dalam siklus keuangan rumah sakit. Klaim mungkin terlihat sebagai urusan administrasi. Namun, sesungguhnya klaim memiliki hubungan langsung dengan arus kas rumah sakit.
Ketika klaim berjalan lancar, proses perubahan piutang menjadi kas dapat berlangsung lebih baik. Sebaliknya, ketika klaim tertunda, membutuhkan perbaikan berulang, atau menghadapi pending dan dispute, maka waktu pencairan dapat menjadi lebih panjang.
Dalam perspektif manajemen keuangan, kondisi tersebut berkaitan erat dengan manajemen modal kerja dan likuiditas. Rumah sakit dapat memiliki pendapatan yang secara akuntansi tercatat, tetapi apabila pendapatan tersebut belum berubah menjadi kas, kemampuan rumah sakit untuk membiayai kebutuhan operasional sehari-hari tetap dapat menghadapi tekanan.
Karena itu, klaim tidak semestinya dilihat hanya sebagai pekerjaan yang dilakukan setelah pelayanan selesai. Klaim harus dipandang sebagai bagian dari keseluruhan proses pelayanan pasien.
Mengubah Cara Pandang terhadap Klaim
Berangkat dari pemikiran tersebut, RSUP Tadjuddin Chalid mengembangkan inovasi Tata Kelola Klaim Proaktif.
Gagasan utamanya sederhana, tetapi memiliki konsekuensi besar terhadap cara kerja organisasi: mengubah paradigma pengelolaan klaim dari pendekatan retrospektif menjadi proaktif.
Pendekatan retrospektif cenderung melihat persoalan setelah proses pelayanan selesai. Ketika pasien sudah pulang, dokumen dikumpulkan, klaim disusun, kemudian ditemukan adanya kekurangan dokumentasi, ketidaksesuaian, atau persoalan lain yang membutuhkan perbaikan. Pada pendekatan proaktif, cara berpikirnya dibalik.
Potensi masalah diupayakan ditemukan sejak awal, bahkan ketika proses pelayanan pasien masih berlangsung. Dokumen klinis tidak menunggu lengkap ketika pasien sudah selesai dirawat.
Ketepatan diagnosis dan tindakan diperhatikan sejak awal. Proses coding, precoding, verifikasi, dan kelengkapan administrasi didorong berjalan lebih dini.
Sumber:

