DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Sampah sebagai Guru, Sekolah sebagai Laboratorium Ekologi

Sampah sebagai Guru, Sekolah sebagai Laboratorium Ekologi

--

Oleh: Mashud Azikin

DISWAY, SULSEL - Ada ironi dalam cara kita mengajarkan lingkungan kepada anak-anak. Hutan, sungai, perubahan iklim, dan pemanasan global hadir melalui buku dan presentasi, sementara persoalan terdekat sering luput: ke mana perginya sisa makanan setelah piring mereka kosong?

 

Pertanyaan itu relevan ketika membicarakan Sekolah Rakyat di Kota Makassar.

 

Sebagai kota metropolitan, Makassar menghadapi persoalan persampahan yang kompleks. Pertumbuhan penduduk, perdagangan, kuliner, permukiman, dan perubahan pola konsumsi terus menambah timbulan sampah, terutama sampah organik.

 

Penanganan sampah tidak bisa terus bertumpu di hilir. Perubahan harus dimulai dari sumber: sampah dikelola sedekat mungkin dengan tempat ia dihasilkan.

 

Di sinilah Teba Modern relevan. Sistem ini dapat mengelola sampah organik di lingkungan pendidikan, termasuk asrama Sekolah Rakyat, sekaligus menjadi laboratorium ekologis, ruang pembentukan karakter, dan sarana membangun kemandirian pangan.

 

Pendidikan lingkungan tidak selalu membutuhkan laboratorium mahal. Kadang, ia cukup dimulai dari tempat untuk meletakkan sisa makanan.

 

Makassar dan Persoalan Sampah yang Tidak Bisa Terus Dikirim ke Hilir

Sumber: