Oleh: Prof. Dr. Munawir Kamaluddin
(Pakar Pendidikan Nilai dan Karakter) DISWAY, SULSEL- Hari ini manusia hidup di zaman yang aneh. Kebohongan bisa tampil lebih meyakinkan daripada kebenaran. Fitnah bisa menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Dan manusia terkadang lebih percaya pada sesuatu yang viral daripada sesuatu yang benar. Inilah tragedi besar peradaban modern, dimana hoaks dan berita bohong telah berubah menjadi senjata sosial, senjata politik, bahkan senjata psikologis untuk menggiring opini, menghancurkan kehormatan, memecah persaudaraan, dan membentuk kebencian massal. Yang lebih berbahaya, hoaks hari ini tidak selalu datang dengan wajah kasar. Ia sering tampil dengan bahasa moral, dibungkus dalil, diselimuti narasi kepedulian, bahkan dikemas seolah-olah sedang membela agama dan kebenaran. Padahal sesungguhnya ia sedang menyebarkan prasangka, mengadu domba, dan membunuh karakter seseorang secara perlahan. Inilah sebabnya Islam sangat keras terhadap penyebaran berita bohong. Karena dusta bukan sekadar kesalahan lisan, tetapi pengkhianatan terhadap amanah kebenaran. Ketika seseorang menyebarkan informasi tanpa tabayyun, sesungguhnya ia sedang mempertaruhkan kehormatan orang lain demi kepuasan emosinya sendiri. Hari ini media sosial telah melahirkan banyak “hakim tanpa ilmu.” Orang mudah menuduh tanpa bukti. Mudah menghina tanpa memahami. Mudah menyerang tanpa berpikir panjang. Bahkan terkadang seseorang merasa dirinya paling benar hanya karena didukung oleh keramaian komentar dan banyaknya orang yang ikut membagikan narasi yang sama. Padahal banyak manusia hancur bukan karena kesalahannya, tetapi karena opini yang dibangun tentang dirinya. Banyak persaudaraan retak bukan karena fakta, tetapi karena prasangka yang terus dipelihara. Dan banyak masyarakat terpecah bukan karena perbedaan, tetapi karena kebohongan yang diulang terus-menerus hingga dianggap sebagai kebenaran. Inilah bahaya terbesar hoaks, ia membunuh akal sehat, merusak nurani, dan mematikan rasa keadilan. Lebih menyedihkan lagi, sebagian manusia menikmati penyebaran berita bohong seperti menikmati hiburan. Aib orang lain dijadikan tontonan. Kesalahan seseorang dijadikan konsumsi publik. Kebencian dipelihara demi popularitas dan kepentingan kelompok. Padahal setiap kata yang disebarkan bukan hanya meninggalkan jejak digital, tetapi juga jejak dosa yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Dalam Islam, menjaga lisan dan tulisan adalah bagian dari menjaga iman. Sebab fitnah yang keluar dari mulut dan jari manusia bisa lebih tajam daripada luka senjata. Hoaks mampu menghancurkan reputasi, menghilangkan kepercayaan, memecah keluarga, merusak lembaga, bahkan mengguncang stabilitas masyarakat. Karena itu, Islam mengajarkan tabayyun, kejujuran, dan kehati-hatian sebagai bentuk kematangan moral dan spiritual. Tidak semua yang didengar harus disampaikan. Tidak semua yang diketahui harus diumbar. Dan tidak semua yang ramai berarti benar. Hari ini dunia tidak kekurangan orang cerdas, tetapi kekurangan manusia yang jujur. Tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan kebijaksanaan. Banyak manusia pandai berbicara tentang moralitas, tetapi gagal mengendalikan hawa nafsu ketika membenci seseorang. Padahal kedewasaan sejati bukan terletak pada kemampuan menyerang, tetapi kemampuan menahan diri. Bukan pada keberanian menyebarkan berita, tetapi keberanian menjaga amanah kebenaran. Maka sebelum menyebarkan informasi, tanyakan pada hati nurani, apakah ini benar?, apakah ini bermanfaat?, mapakah ini akan melahirkan kedamaian atau justru kerusakan? Sebab bisa jadi satu pesan yang dianggap sepele di dunia, menjadi beban yang sangat berat di akhirat. Dan sesungguhnya, kehormatan manusia jauh lebih mahal daripada sensasi, sementara kejujuran jauh lebih mulia daripada kemenangan yang dibangun di atas kebohongan. Menyebarkan Hoax di dunia Maya dan orang percaya maka bedosalah di dunia dan akhirat bagi mereka yang membuatnya.Hoaks di Era Digital: Kebohongan Massal dan Memecah Umat
Minggu 17-05-2026,19:12 WIB
Oleh: Fuad
Kategori :
Terkait
Sabtu 11-07-2026,10:11 WIB
Festival Kuliner Satu Kota 1000 Rasa, Appi: Makassar Bisa Jadi Etalase Produk Unggulan Sulawesi Selatan
Jumat 10-07-2026,21:25 WIB
Diskominfo Makassar Gandeng Densus 88 Cegah Penyebaran Paham Radikal di Ruang Digital
Jumat 10-07-2026,17:55 WIB
DPMPTSP Makassar-Pekanbaru Jalin Kerja Sama Kembangkan Layanan Perizinan Digital
Jumat 10-07-2026,11:24 WIB
Temui Munafri, Pemkab Brebes Pelajari Strategi Pemkot Makassar Tingkatkan PAD
Jumat 10-07-2026,11:07 WIB
Wali Kota Makassar Hadiri Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassary di UIM Al-Gazali
Terpopuler
Jumat 10-07-2026,21:32 WIB
Spanyol Jumpa Belgia, Pertarungan Dua Kekuatan Sepak Bola Eropa
Sabtu 11-07-2026,07:48 WIB
Bungkam Setan Merah 2-1, Spanyol Tantang Prancis di Semifinal PD 2026
Jumat 10-07-2026,21:44 WIB
Unhas Luncurkan KKN Tematik Keterbukaan Informasi Publik Pertama di Indonesia
Jumat 10-07-2026,21:25 WIB
Diskominfo Makassar Gandeng Densus 88 Cegah Penyebaran Paham Radikal di Ruang Digital
Sabtu 11-07-2026,18:15 WIB
Inggris Percaya Diri, Norwegia Siap Patahkan Pesona Tiga Singa
Terkini
Sabtu 11-07-2026,18:15 WIB
Inggris Percaya Diri, Norwegia Siap Patahkan Pesona Tiga Singa
Sabtu 11-07-2026,17:25 WIB
Prestasi Gemilang, Pembalap Yamaha Raih Ikatan Motor Indonesia Awards
Sabtu 11-07-2026,11:18 WIB
Disdik Makassar Serahkan Ijazah Paket A, B, dan C kepada 108 Warga Belajar
Sabtu 11-07-2026,11:04 WIB
Dinas Koperasi Kurasi 151 UMKM Kuliner untuk Perkenalkan Rasa Khas Makassar
Sabtu 11-07-2026,10:11 WIB