Mahmud La Kaiya: PATSi UMI Harus Relevan, Berdampak, dan Mendunia

Rabu 10-06-2026,12:37 WIB
Reporter : Muh. Seilessy
Editor : Muh. Seilessy

DISWAY, SULSEL - Kader potensial Persatuan Alumni Teknik Sipil (PATSi) Universitas Muslim Indonesia (UMI),  Mahmud La Kaiya , mendorong transformasi PATSi menjadi organisasi alumni yang diakui dan berperan aktif di tingkat nasional maupun internasional. Gagasan tersebut menjadi salah satu visi yang diusung Mahmud dalam kontestasi pemilihan Ketua Umum PATSi UMI periode mendatang.

 

 

Menurut Mahmud, tantangan global dan perkembangan dunia konstruksi yang semakin dinamis menuntut organisasi alumni untuk bergerak lebih progresif dan memberikan manfaat nyata bagi anggotanya, almamater, serta masyarakat luas.

 

“PATSi UMI harus bertransformasi menjadi organisasi yang mampu menghadirkan nilai tambah bagi alumni dan menjadi bagian dari solusi pembangunan,” kata Mahmud, Senin (8/6/2026).

 

Karena itu, salah satu visi yang diusungnya dalam kontestasi Ketua Umum PATSi UMI adalah “PATSi UMI Diakui dan Berpartisipasi Aktif di Kancah Nasional dan Internasional.”

 

Bagi Mahmud, visi tersebut bukan sekadar slogan, melainkan arah strategis untuk menempatkan PATSi sebagai organisasi alumni yang memiliki pengaruh, kapasitas intelektual, dan kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa.

 

Ia menilai, kepemimpinan PATSi ke depan harus mampu melampaui urusan internal organisasi. Ketua umum, kata dia, harus berperan sebagai penghubung yang membangun jejaring luas dengan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi profesi, hingga lembaga internasional

 

“Semakin luas jejaring yang dibangun, semakin besar pula peluang PATSi memperoleh pengakuan dan kepercayaan dari berbagai pihak,” ujarnya.

 

Mahmud menjelaskan, langkah pertama menuju pengakuan nasional adalah memperkuat posisi PATSi sebagai pusat kolaborasi alumni Teknik Sipil UMI.

 

Hal itu dapat dilakukan melalui pembangunan basis data alumni yang terintegrasi, pemetaan potensi alumni di berbagai sektor, serta penguatan sinergi antarangkatan dan lintas profesi.

 

Menurutnya, alumni Teknik Sipil UMI saat ini telah berkiprah di berbagai bidang strategis, mulai dari birokrasi, dunia konstruksi, akademisi, politik, hingga dunia usaha. Potensi besar tersebut perlu dihimpun menjadi kekuatan organisasi yang mampu memberikan dampak lebih luas.

 

“Dengan alumni yang terorganisasi dengan baik, PATSi dapat menjadi mitra strategis pemerintah, dunia industri, dan organisasi profesi dalam memberikan gagasan terkait pembangunan infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia,” jelasnya.

 

Di tingkat nasional, Mahmud juga mendorong PATSi untuk lebih aktif menghadirkan kontribusi melalui pembentukan pusat kajian kebijakan infrastruktur, forum nasional, hingga penyusunan rekomendasi yang dapat menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan.

 

“Pengakuan tidak lahir dari klaim organisasi, tetapi dari kemampuan memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat dan negara. Karena itu, PATSi harus dikenal sebagai organisasi yang produktif, relevan, dan berdampak,” tegasnya.

 

Tak hanya berhenti di level nasional, Mahmud juga menargetkan PATSi UMI mampu memperluas kiprah di tingkat internasional.

 

Ia mengusulkan penguatan kerja sama dengan organisasi profesi, perguruan tinggi, dan komunitas teknik di kawasan ASEAN maupun negara-negara lain.

 

Selain itu, alumni didorong lebih aktif terlibat dalam konferensi global, publikasi ilmiah, pertukaran pengetahuan, serta penguatan jejaring alumni yang berkarier di luar negeri.

 

Menurut Mahmud, kehadiran PATSi di panggung internasional harus membawa gagasan dan kontribusi yang mampu memberikan nilai tambah, bukan sekadar menjadi simbol eksistensi organisasi.

 

“Kita ingin PATSi dikenal karena kontribusinya, karena kualitas alumninya, dan karena kemampuannya membangun kolaborasi lintas batas,” katanya

 

Mahmud optimistis, dengan kepemimpinan yang visioner, organisasi yang profesional, dan partisipasi aktif seluruh alumni, PATSi UMI memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi organisasi alumni teknik sipil yang tidak hanya diperhitungkan di Indonesia, tetapi juga mendapat pengakuan di tingkat internasional.

 

“Keberhasilan organisasi tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, tetapi dari seberapa besar pengaruh dan manfaat yang mampu dihadirkan. PATSi harus menjadi organisasi yang menghubungkan potensi, menggerakkan kolaborasi, dan menghadirkan dampak nyata,” tutupnya. (*)

Kategori :