Menjemput Hijrah Ekologis di Tanah Daeng

Selasa 16-06-2026,11:05 WIB
Oleh: Muh. Seilessy

Muharram, Sampah, dan Jalan Panjang Pertobatan Lingkungan Kota Makassar

 

Oleh: Mashud Azikin

Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar

 

DISWAY, SULSEL - Di Bawah Langit Makassar yang Kian Berat

Muharram selalu datang membawa pesan yang sama: perubahan. 

Ia bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah, melainkan pengingat bahwa peradaban besar lahir dari keberanian meninggalkan kebiasaan lama menuju tata hidup yang lebih bermakna.

 

Namun, ketika 1 Muharram 1448 Hijriah tiba pada tahun 2026, umat Islam tidak sedang berdiri di tengah hamparan persoalan yang sederhana. Dunia sedang menghadapi krisis ekologis yang semakin nyata. Perubahan iklim, pencemaran lingkungan, degradasi sumber daya alam, hingga ledakan produksi sampah telah menjelma menjadi tantangan utama peradaban manusia.

 

Di Makassar, krisis itu tidak hadir dalam bentuk teori atau laporan ilmiah semata. Ia tampak dalam gunungan sampah yang terus membesar di TPA Tamangapa Antang. Ia hadir dalam saluran drainase yang tersumbat kantong plastik setiap musim hujan. Ia menyapa kita melalui sampah-sampah yang terdampar di pesisir Losari, seolah laut sedang mengembalikan apa yang selama ini dibuang manusia ke dalam tubuhnya.

 

Fenomena tersebut sesungguhnya bukan sekadar persoalan teknis pengelolaan sampah. Ia adalah cermin dari krisis cara pandang manusia terhadap alam.

 

Al-Qur'an menyebut kondisi demikian sebagai fasad fil ardh—kerusakan di muka bumi yang lahir akibat ulah tangan manusia sendiri.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia...” (QS. Ar-Rum: 41).

 

Muharram tahun ini karena itu menghadirkan pertanyaan mendasar: apakah hijrah hanya akan kita maknai sebagai ritual seremonial tahunan, ataukah ia akan menjadi momentum perubahan cara hidup yang lebih ramah terhadap bumi?

 

Ketika Hubungan dengan Alam Terlupakan

 

Dalam praktik kehidupan beragama sehari-hari, banyak orang memahami kesalehan melalui dua hubungan utama: hubungan manusia dengan Tuhan (hablumminallah) dan hubungan manusia dengan sesama manusia (hablumminannas).

 

Keduanya tentu sangat penting. Namun ada satu dimensi yang sering luput dari perhatian, yakni hubungan manusia dengan alam semesta.

Padahal bumi bukan benda mati yang disediakan semata-mata untuk dieksploitasi. Alam adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang hidup dalam sistem penciptaan yang saling terhubung.

 

Air, tanah, tumbuhan, hewan, udara, sungai, laut, bahkan mikroorganisme yang tidak kasatmata, seluruhnya merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang menopang keberlangsungan manusia.

Dalam perspektif ekoteologi Islam, hubungan ini dikenal sebagai habluminal ‘alam.

 

Konsep ini menempatkan manusia bukan sebagai penguasa mutlak bumi, melainkan sebagai pengelola dan penjaga kehidupan.

Ketika Allah menyebut manusia sebagai khalifah fil ardh, mandat yang diberikan bukanlah lisensi untuk menguras dan merusak, melainkan amanah untuk merawat.

 

Karena itu, membuang sampah sembarangan sesungguhnya bukan sekadar pelanggaran terhadap aturan kebersihan kota. Ia merupakan bentuk pengingkaran terhadap amanah kekhalifahan.

 

Sampah yang dibuang ke kanal lalu menyumbat aliran air, plastik yang berakhir di laut dan dimakan ikan, atau makanan yang terbuang hingga menghasilkan gas metana di tempat pembuangan akhir, semuanya memiliki dimensi moral dan spiritual.

Kerusakan lingkungan bukan hanya kegagalan sistem. Ia juga kegagalan etika.

 

Makassar, Konsumerisme, dan Krisis Sampah Rumah Tangga

 

Makassar adalah kota yang hidup.

Pasar-pasarnya ramai sejak dini hari. Warung-warung makan beroperasi hingga larut malam. Tradisi kuliner tumbuh menjadi identitas budaya yang kuat. Coto, Konro, Pallubasa, Sop Saudara, hingga Pisang Epe telah menjadi simbol keramahan kota ini.

 

Tetapi setiap denyut ekonomi juga menghasilkan konsekuensi ekologis.

Di balik aktivitas konsumsi yang tinggi, tersimpan persoalan besar berupa sampah makanan dan sampah plastik sekali pakai.

 

Menurut berbagai studi lingkungan, sampah organik rumah tangga masih menjadi komponen terbesar timbulan sampah perkotaan di Indonesia. Ironisnya, sebagian besar masih berakhir di TPA tanpa proses pengolahan.

 

Padahal dalam perspektif Islam, pemborosan makanan merupakan bentuk tabzir yang secara tegas dikecam.

“Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra: 27).

 

Ayat tersebut sesungguhnya sangat relevan dengan gaya hidup perkotaan modern.

 

Kita membeli lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Kita mengambil makanan lebih banyak daripada yang mampu kita habiskan. Kita menggunakan plastik hanya beberapa menit sebelum membuangnya ke lingkungan.

 

Muharram mengajarkan bahwa hijrah dimulai dari perubahan perilaku sehari-hari.

 

Hijrah ekologis berarti berpindah dari budaya konsumtif menuju budaya cukup.

 

Dari mentalitas membuang menuju mentalitas memanfaatkan.

 

Dari kebiasaan mengambil sebanyak-banyaknya menuju kesadaran menggunakan secukupnya.

 

Dalam bahasa spiritual Islam, nilai itu dikenal sebagai zuhud dan qana'ah.

Bukan berarti menolak kemajuan, melainkan menempatkan kebutuhan secara proporsional agar tidak berubah menjadi keserakahan.

 

Dari Mimbar Masjid ke Lorong-Lorong Kota

 

Persoalan lingkungan tidak akan selesai hanya melalui ceramah atau kampanye sesaat.

Ia membutuhkan kelembagaan sosial yang mampu menerjemahkan nilai-nilai agama menjadi tindakan nyata.

Di Makassar, terdapat dua ruang sosial yang memiliki potensi besar untuk memimpin transformasi tersebut: masjid dan lorong.

 

Masjid sebagai Pusat Peradaban Hijau

 

Sejarah Islam menunjukkan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan pembangunan sosial.

 

Sudah saatnya fungsi itu diperluas menjadi pusat gerakan lingkungan.

Bayangkan apabila ribuan masjid di Makassar menerapkan prinsip Eco-Masjid.

 

Tidak ada lagi tumpukan gelas plastik sekali pakai setelah pengajian. Jamaah membawa tumbler sendiri. Air bekas wudhu ditampung dan dimanfaatkan untuk penyiraman tanaman. Halaman masjid dilengkapi lubang biopori, kebun pangan, serta fasilitas pemilahan sampah.

 

Masjid tidak lagi menjadi konsumen sumber daya, tetapi produsen solusi lingkungan.

 

Lorong sebagai Laboratorium Perubahan

 

Selain masjid, Makassar memiliki kekuatan sosial yang unik: lorong.

Lorong bukan sekadar ruang fisik. Ia adalah ruang interaksi, gotong royong, dan solidaritas warga.

 

Jika setiap lorong mampu mengelola sampahnya sendiri, maka beban kota akan berkurang secara signifikan.

 

Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, eco enzyme, atau pakan maggot. Sampah anorganik dapat dipilah dan disalurkan melalui bank sampah. Minyak jelantah dapat dikumpulkan menjadi bahan baku ekonomi sirkular.

 

Pada titik ini, memilah sampah tidak lagi sekadar aktivitas teknis, melainkan praktik keimanan yang diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

Kebersihan bukan slogan. Ia menjadi budaya.

 

Menjadikan Muharram sebagai Titik Balik Peradaban

 

Krisis sampah pada dasarnya adalah krisis kesadaran.

Teknologi dapat membantu. Infrastruktur dapat diperbaiki. Anggaran dapat ditingkatkan. Tetapi tanpa perubahan perilaku, gunungan sampah akan terus tumbuh lebih cepat daripada kemampuan kita mengelolanya.

 

Muharram 1448 Hijriah memberikan peluang refleksi yang sangat berharga.

Hijrah yang sesungguhnya hari ini bukan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hijrah adalah keberanian meninggalkan kebiasaan yang merusak menuju kebiasaan yang memulihkan.

 

Hijrah ekologis berarti mengubah rumah menjadi pusat pemilahan sampah.

 

Mengubah masjid menjadi pusat pendidikan lingkungan. 

 

Mengubah lorong menjadi ruang ekonomi sirkular. 

 

Mengubah gaya hidup konsumtif menjadi gaya hidup yang bertanggung jawab.

 

Di tengah ancaman perubahan iklim dan darurat sampah perkotaan, Makassar membutuhkan lebih dari sekadar kota yang indah dipandang.

 

Makassar membutuhkan kota yang sehat secara ekologis, matang secara sosial, dan beradab secara spiritual.

 

Sebab pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah kota tidak hanya terlihat dari gedung-gedung yang menjulang atau jalan-jalan yang membentang. Ia juga tercermin dari cara warganya memperlakukan sampah, menjaga air, merawat tanah, dan menghormati kehidupan.

 

Muharram tahun ini mengajak kita membuka lembaran baru.

Bukan hanya lembaran kalender.

Tetapi lembaran kesadaran.

Tags : #mashud azikin #makassar #hijrah ekologis #ditanah daeng

Kategori :

Terkait

Terpopuler

Terkini