Episentrum Berkah di Tanah Residu

Kamis 09-07-2026,13:17 WIB
Oleh: Fuad

Oleh: Mashud Azikin

 

DISWAY, SULSEL - Manggala hari-hari ini adalah sebuah monumen atas apa yang kita buang, sekaligus cermin dari apa yang kita lupakan. Di ujung timur Makassar itu, jalaran truk-truk jingga saban hari mengepulkan debu, membawa gunungan sisa peradaban kota ke TPA Tamangapa. 

 

Bagi sebagian besar warga kota, Manggala adalah "halaman belakang"—sebuah wilayah batas di mana aroma pembusukan disembunyikan agar ruang tengah kota tetap terlihat wangi dan berkilau.

 

​Namun nanti, pada hari Minggu, 12 Juli 2026, sebuah jeda yang tak biasa dihadirkan di sana. Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar menggelar "Jelajah Sampah".

Di atas kertas, ini mungkin tampak seperti program birokrasi biasa: gerakan plogging, stan-stan edukasi, atau deretan pejabat yang memegang sapu di depan kamera. Namun, jika kita meniliknya dengan kacamata humaniora ekologi, yang sedang terjadi di Manggala sesungguhnya adalah sebuah upaya dekonstruksi kultural. Sebuah ikhtiar untuk memulihkan hubungan yang patah antara manusia Makassar dengan ekosistemnya.

 

​Selama puluhan tahun, modernitas menjebak kita dalam nalar linear yang egosentris: beli, konsumsi, buang. Kita mengira, begitu kantong plastik hitam diikat dan ditaruh di depan pagar rumah, urusan kita dengan dunia selesai. Kita melimpahkan tanggung jawab moral itu ke pundak para petugas kebersihan, dan membiarkan warga Manggala menghirup pekat residunya. Ada alienasi radikal di sana. Kita terasing dari dampak konsumsi kita sendiri.

 

​Emas Hijau dan Berkah yang Terserak

 

​Melalui reorientasi slogan dari "Pilah, Angkut, Buang" menjadi "Pilah, Angkut, Berkah!", gerakan ini mencoba menyuntikkan kembali nilai spiritualitas dan kemanusiaan ke dalam tong sampah kita. Kata "Berkah" di sini bukan sekadar jargon teologis yang menenangkan, melainkan sebuah pengakuan atas nilai intrinsik dari alam.

 

​Ketika sampah organik didefinisikan ulang sebagai Emas Hijau melalui komposting, atau ketika ia diurai oleh maggot Black Soldier Fly (BSF) dan difermentasi menjadi Eco-Enzyme, kita sedang diajak untuk melihat bahwa di dalam alam—bahkan yang telah menjadi limbah sekalipun—tidak ada yang sia-sia.

 

Pembusukan bukanlah akhir, melainkan awal dari siklus kehidupan yang baru.

​Menjadikan sampah anorganik sebagai Tabungan dan sampah organik sebagai Emas Hijau adalah cara kita memanusiakan sisa-sisa materi. Ini adalah ekonomi sirkular yang dibungkus dengan kearifan lokal; sebuah kesadaran bahwa kesejahteraan ekonomi warga tidak harus dibayar dengan kebangkrutan ekologis.

 

​K3: Menatap Manusia di Balik Masker

 

​Satu hal yang paling menyentuh dari narasi Jelajah Sampah di Manggala adalah penekanan pada aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) hingga ke level domestik. Seringkali, dalam retorika lingkungan yang muluk-muluk, kita melupakan tubuh-tubuh konkret yang bekerja di dalamnya. Kita lupa pada tangan-tangan legam yang memilah plastik di antara bau menyengat, atau jari-jari yang rentan terluka oleh pecahan kaca dan jarum suntik yang dibuang sembarangan dari dapur-dapur kita.

 

​Ketika DLH Makassar mewajibkan pemisahan sampah tajam dan B3 domestik sejak dari hulu, kebijakan ini bukan lagi sekadar SOP teknis. Ini adalah wujud dari ecological justice—keadilan ekologis yang berbasis pada empati kemanusiaan. Ini adalah pengakuan bahwa keselamatan para satgas kebersihan di dalam truk-truk sampah itu ditentukan oleh kebaikan hati dan kedisiplinan kita saat berada di dapur rumah masing-masing.

 

​Manggala pada akhirnya bukan lagi sekadar tempat pembuangan akhir. Di bawah matahari Juli, ia sedang menawarkan diri menjadi ruang kelas bagi kemanusiaan kita yang baru.

Jika Makassar benar-benar ingin bebas sampah pada tahun 2029, maka pertobatannya harus dimulai dari cara kita memandang Manggala: bukan sebagai keranjang sampah kota, melainkan sebagai episentrum tempat berkah dan kelestarian itu bermula.

Kategori :