Gerakan Pilah Sampah di Rappokalling Dimulai Sejak April, Kini Jadi Percontohan

Senin 03-08-2026,21:30 WIB
Reporter : Fuad
Editor : Muh. Seilessy

 

“Air lindinya langsung keluar ke tanah sehingga yang tersisa hanya bahan untuk menjadi kompos padat,” tambahnya.

 

Sementara itu, sampah anorganik seperti gelas plastik, botol plastik, dan kardus dikumpulkan melalui keranjang yang tersedia di setiap lorong. Warga juga didorong menyedekahkan sampah bernilai ekonomi tersebut kepada para pemulung di lingkungan sekitar.

 

Setiap Rabu sore, seusai pengajian rutin, warga membawa gelas plastik yang telah dibersihkan untuk ditukarkan dengan kebutuhan pokok melalui Bank Sampah Unit Sekolah Mangkasara.

 

“Setelah mengaji, ibu-ibu mengumpulkan gelas plastik yang sudah bersih, kemudian ditukar dengan kebutuhan pokok seperti minyak goreng, beras, dan gula melalui bank sampah unit,” ungkapnya.

 

Menurut Sri Rahmi, pola tersebut membuat hanya sampah residu yang diangkut petugas kebersihan menuju tempat pemrosesan akhir.

 

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, pihaknya juga memberikan insentif berupa kebutuhan pokok kepada warga yang aktif mengikuti kegiatan bank sampah.

 

“Mungkin karena pendekatannya. Kami memberikan hadiah berupa sembako seperti minyak goreng, beras, dan gula kepada warga yang aktif,” jelasnya.

 

Sri Rahmi mengungkapkan, perubahan perilaku masyarakat tidak terjadi secara instan. Ia memulai gerakan tersebut bersama anak-anak binaannya di Sekolah Mangkasara dengan membersihkan lingkungan, termasuk drainase dan lokasi yang selama ini menjadi tempat pembuangan sampah.

Kategori :