“Pembelajaran kita tidak sekadar transfer knowledge,” katanya.
Karena itu, RPS dan modul tidak hanya mengatur capaian akademik. Nilai keislaman, pendidikan bermutu dalam kerangka SDGs 4, pemanfaatan teknologi digital, serta penggunaan LMS juga dimasukkan ke dalam desain pembelajaran.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara Unismuh menerjemahkan I-GIFt ke tingkat pembelajaran. Unsur Green, antara lain, diterjemahkan melalui pengurangan penggunaan bahan cetak dan pemanfaatan platform digital. Nilai Islamic hadir melalui integrasi nilai keislaman, sedangkan dimensi Futuristic berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.
Rakhim menilai penerjemahan I-GIFt ke dalam modul dan perangkat pembelajaran menunjukkan bahwa konsep tersebut mulai bergerak dari semboyan kelembagaan menuju praktik akademik.
“I-GIFt ini kemudian tidak menjadi sekadar tagline, tetapi menjadi ruh dari desain masa depan kampus kita,” ujarnya.
Penyusunan RPS dan modul merupakan bagian dari proses yang telah berjalan sejak tahun lalu.
Ishaq menyebut sekitar 50 program studi telah mendapatkan pendampingan intensif dalam pengembangan kurikulum. Proses itu mulai digagas pada Agustus 2025 dan terus berjalan untuk mempersiapkan implementasi kurikulum OBE pada tahun akademik 2026/2027.
Setelah penyusunan kurikulum, program studi melakukan pemetaan mata kuliah terhadap CPL, meninjau kembali kurikulum, serta menyusun analisis pembelajaran. Dari dokumen itulah RPS dan modul dikembangkan.
Secara keseluruhan, pengembangan OBE di Unismuh berlangsung dalam tiga fase. Pertama, Outcome Based Curriculum, yang berfokus pada perancangan kurikulum. Kedua, Outcome Based Learning and Teaching, yakni menerjemahkan kurikulum ke dalam proses pembelajaran. Ketiga, Outcome Based Assessment and Evaluation, yang mengukur ketercapaian hasil belajar.
Setelah RPS dan modul selesai, perangkat tersebut akan dirakit dalam LMS. Tahapan berikutnya ialah penguatan implementasi pembelajaran berbasis OBE serta asesmen CPL sehingga capaian mahasiswa dapat ditelusuri dari tingkat mata kuliah hingga capaian lulusan.
Perkembangan kecerdasan buatan juga masuk dalam desain pembelajaran tersebut.
AI digunakan sebagai alat bantu dalam penyusunan RPS dan modul. Namun, Ishaq menegaskan, keputusan akademik tetap berada di tangan dosen.
“AI itu sebagai mitra. Keputusan finalnya ada pada Bapak dan Ibu. Silakan direview hasil yang diperoleh dari AI sehingga bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.
Rakhim juga mendorong RPS dan modul Unismuh disiapkan agar adaptif terhadap perkembangan AI. Ia mengusulkan adanya repositori universitas untuk menghimpun produk pembelajaran tersebut.
Modul-modul terbaik, menurut dia, dapat dikembangkan menjadi Open Educational Resources. Dengan cara itu, produk pembelajaran Unismuh tidak hanya digunakan di dalam kampus, tetapi berpeluang menjadi rujukan yang lebih luas dengan identitas institusi tetap melekat.
Dengan rangkaian tersebut, OBE di Unismuh bergerak dari dokumen kurikulum menuju ruang belajar. CPL diturunkan menjadi CPMK dan Sub-CPMK, kemudian diterjemahkan ke dalam RPS, modul, metode pembelajaran, dan asesmen.