“Seluruh rantai nilai harus direncanakan secara terintegrasi, mulai dari penangkapan, pengangkutan, terminal, jaringan pipa, hingga penyimpanan CO₂,” ujar Dannif.
Untuk mendukung kesiapan tersebut, PHE menjalankan pengembangan dari sisi teknis, kerangka pendukung, pasar, dan ekosistem CCS secara paralel.
Pada aspek teknis, PHE mengintegrasikan desain sistem pengangkutan CO₂, terminal, jaringan pipa, sumur, dan fasilitas penyimpanan. Perusahaan juga menyiapkan lingkup kerja untuk memasuki tahap Front-End Engineering Design (FEED), melaksanakan Hazard Identification (HAZID), serta melakukan kajian geomekanika dan perencanaan Monitoring, Measurement, and Verification (MMV).
Dari sisi komersial dan regulasi, PHE menyelaraskan struktur bisnis dengan kerangka regulasi CCS di Indonesia. PHE juga mendukung kerja sama antarpemerintah dalam aspek MRV dan pertukaran data.
Kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan turut diperluas, termasuk industri penghasil emisi CO₂, penyedia jasa, sektor pelayaran, perusahaan rekayasa, hingga pemodal strategis.
Ke depan, PHE akan melanjutkan sejumlah tahapan pengembangan, mulai dari penyelesaian kerangka bilateral dan komitmen industri penghasil emisi CO₂, appraisal dan FEED, hingga keputusan investasi.
Tahapan tersebut kemudian diarahkan pada peningkatan skala pengembangan menuju jaringan CCS regional yang terhubung.
Dengan pendekatan tersebut, PHE menempatkan CCS tidak hanya sebagai fasilitas penyimpanan CO₂, tetapi sebagai bagian dari ekosistem dekarbonisasi regional.