Merawat diri bukan meninggalkan tanggung jawab
Kita tidak harus memilih antara peduli kepada orang lain dan peduli kepada diri sendiri. Merawat diri membantu kita mempertahankan tenaga dan kejernihan untuk bekerja, belajar, mencintai, dan merawat. Batas yang sehat bukan tanda kurang berkomitmen. Ia cara agar tanggung jawab tidak berubah menjadi penghapusan diri.
Langkahnya dapat dimulai dari hal yang sederhana: mengenali tanda lelah, mengatur waktu istirahat sebagai kebutuhan, meminta bantuan sebelum keadaan menjadi terlalu berat, serta membicarakan pembagian peran secara terbuka. Keluarga, kampus, dan organisasi kerja juga perlu menyediakan ruang aman agar orang tidak harus menunggu sampai jatuh sakit untuk mengakui bahwa bebannya terlalu besar. Muncul satu pengingat yang sederhana: masa depan memang perlu diperjuangkan, tetapi hidup tidak hanya berlangsung setelah semua target tercapai. Kita tetap berhak beristirahat, hadir dalam percakapan, menikmati hal kecil, dan mengenali apa yang kita rasakan.
Rumah, pada akhirnya, bukan hanya bangunan tempat kita kembali. Rumah adalah pengalaman diterima tanpa harus terus membuktikan kegunaan diri. Setiap orang membutuhkan setidaknya satu ruang di rumah, kampus, tempat kerja, atau dalam persahabatan untuk bisa berkata, “Saya sedang lelah,” tanpa takut kehilangan penghargaan.
Kewajiban akan selalu menjadi bagian dari kehidupan. Namun, jangan sampai seluruh hidup hanya berisi kewajiban. Di sela kerja dan pengorbanan, kita perlu menyisakan ruang untuk menjadi manusia seutuhnya. Sebab tujuan perjuangan bukan hanya agar semua urusan selesai, melainkan agar kita masih mengenali diri sendiri ketika perjalanan itu berlanjut.
Tentang penulis
Akademisi yang menaruh perhatian pada pengalaman kerja, relasi, dan kesejahteraan manusia. Opini ini disusun melalui refleksi dan tentang tuntutan peran dalam kehidupan sehari-hari.