DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Suwardi Thahir dan Kerinduan Wartawan pada Pemimpin yang Merangkul

Suwardi Thahir dan Kerinduan Wartawan pada Pemimpin yang Merangkul

Penulis Muliadi Saleh (kiri) dan Suwardi Thahir--

Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran 

DISWAY, SULSEL - Ketika nama Suwardi Thahir mengemuka dan diterima secara aklamasi sebagai Ketua PWI Sulawesi Selatan periode 2026–2031, yang sesungguhnya berbicara bukan sekadar mekanisme organisasi, melainkan nurani kolektif para wartawan yang sedang merindukan seorang pemimpin yang mampu merangkul, menyatukan, dan mengembalikan organisasi sebagai rumah bersama. Di tengah zaman yang semakin gaduh oleh perbedaan, kerinduan akan kepemimpinan yang meneduhkan sering kali menjadi kebutuhan yang lebih penting daripada sekadar pergantian kepemimpinan itu sendiri. 

Aklamasi adalah bahasa kepercayaan. Ia adalah titik temu dari berbagai pandangan yang akhirnya bersepakat pada satu nama. Dalam konteks organisasi, aklamasi merupakan bentuk legitimasi moral yang tidak lahir dalam sehari, melainkan dibangun melalui perjalanan panjang, rekam jejak, integritas, dan konsistensi pengabdian. 

Suwardi Thahir tidak hadir sebagai figur yang tiba-tiba muncul menjelang pemilihan. Namanya telah lama dikenal dalam dunia jurnalistik Sulawesi Selatan. Ia tumbuh bersama dinamika profesi wartawan, memahami denyut ruang redaksi, merasakan tantangan kerja jurnalistik, sekaligus terlibat dalam proses pembinaan dan penguatan kompetensi insan pers. 

Pengalamannya sebagai penguji kompetensi wartawan memberikan perspektif yang utuh tentang pentingnya profesionalisme dalam dunia jurnalistik. Ia memahami bahwa pers yang kuat tidak hanya lahir dari kebebasan, tetapi juga dari kompetensi, integritas, dan tanggung jawab moral. 

Di tengah perubahan zaman yang bergerak sangat cepat, dunia pers menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Disrupsi digital mengubah lanskap media. Informasi bergerak dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan mulai mengambil sebagian fungsi yang selama ini dilakukan manusia. Di sisi lain, hoaks, disinformasi, dan polarisasi sosial terus menguji kualitas kerja jurnalistik. 

Dalam situasi seperti ini, organisasi profesi tidak cukup hanya menjadi wadah administratif. Ia harus menjadi rumah pembelajaran, ruang kolaborasi, pusat penguatan kompetensi, sekaligus benteng etika profesi. 

Karena itulah, pernyataan Suwardi Thahir yang ingin menjadikan PWI Sulawesi Selatan sebagai organisasi yang inklusif dan tidak eksklusif memiliki makna yang sangat strategis. Inklusivitas bukan sekadar konsep organisasi modern. Ia adalah fondasi bagi tumbuhnya kepercayaan. 

Organisasi yang sehat adalah organisasi yang membuka ruang bagi semua anggotanya untuk berpartisipasi. Ia tidak membangun tembok pemisah antara senior dan junior, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Sebaliknya, ia membangun jembatan yang memungkinkan semua energi positif bertemu dan bergerak menuju tujuan yang sama. 

Dalam perspektif ilmu organisasi, kepemimpinan inklusif terbukti mampu meningkatkan rasa memiliki, memperkuat solidaritas, dan mendorong inovasi. Ketika anggota merasa dihargai dan didengar, mereka tidak hanya menjadi bagian dari organisasi, tetapi juga menjadi bagian dari solusi. 

Mungkin inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak kalangan menaruh harapan besar kepada Suwardi Thahir. Mereka melihat bukan hanya kapasitas intelektualnya, tetapi juga kemampuannya membangun komunikasi dan menjaga hubungan baik dengan berbagai kalangan. 

Dunia jurnalistik pada hakikatnya adalah dunia yang dibangun oleh dialog. Wartawan setiap hari mendengar berbagai suara, memahami beragam perspektif, dan berusaha menghadirkan informasi yang berimbang. Karena itu, organisasi wartawan pun membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan mendengar, bukan sekadar kemampuan berbicara. 

Sejarah menunjukkan bahwa organisasi yang besar tidak runtuh karena kekurangan aturan. Ia runtuh ketika kehilangan rasa kebersamaan. Sebaliknya, organisasi yang kuat bukanlah organisasi yang bebas dari perbedaan, melainkan organisasi yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan bersama. 

Di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi kepemimpinan Suwardi Thahir. Amanah yang kini berada di pundaknya bukan hanya mengelola organisasi, tetapi juga merawat semangat kolektif para wartawan Sulawesi Selatan agar tetap berada dalam satu rumah besar yang saling menghormati, saling menguatkan, dan saling mendukung. 

Sumber: