DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Hilirisasi: Antara Transformasi Pendidikan dan Inovasi Sosial

Hilirisasi: Antara Transformasi Pendidikan dan Inovasi Sosial

Prof Mursalin Nohong, guru besar FEB Unhas.--

Jika sebelumnya pendidikan dipandang sebagai proses transfer ilmu, kini pendidikan dilihat sebagai proses transformasi sosial. Mahasiswa bukan lagi objek pembelajaran, tetapi subjek perubahan. Mahasiswa tidak lagi dipersiapkan untuk hanya mencari pekerjaan, tetapi untuk menciptakan pekerjaan; tidak lagi sekadar menyelesaikan kuliah, tetapi menyelesaikan persoalan nyata; tidak lagi berkutat pada teori, tetapi mempraktikkan teori menjadi inovasi.

Bayangkan seorang mahasiswa teknik yang dulunya hanya membuat laporan penelitian tentang mesin pengering gabah. Di era hilirisasi, ia tidak berhenti pada laporan. Ia bekerja sama dengan petani lokal, menguji prototipe, memperbaiki desain, menyesuaikan kebutuhan pasar, mencari mitra bisnis, dan akhirnya produk itu benar-benar digunakan oleh masyarakat. 

Bayangkan pula seorang mahasiswa manajemen yang tidak hanya belajar pemasaran di kelas, tetapi benar-benar mendampingi UMKM untuk meningkatkan branding, membuat kanal penjualan digital, sekaligus menaikkan omzet pelaku usaha mikro. Atau mahasiswa kesehatan lingkungan yang tidak hanya mempelajari teori pengelolaan sampah, tetapi merancang sistem kompos dari limbah pasar untuk jadi produk bernilai ekonomi.

Hilirisasi tidak hanya berdampak pada mahasiswa, tetapi juga pada kampus sebagai institusi. Perguruan tinggi kini perlu menggeser diri menjadi pusat inovasi, tempat lahirnya teknologi dan produk atau jasa baru. Laboratorium harus hidup, pusat studi harus bersifat aplikatif, dan unit riset harus mampu menghubungkan akademik dengan kebutuhan industri serta pemerintah daerah. 

Kerja sama lintas sektor menjadi keniscayaan—kampus tidak bisa lagi berjalan sendiri. Kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi fondasi baru ekosistem pendidikan. Saat kolaborasi ini berjalan, maka hilirisasi tidak hanya menghasilkan inovasi teknologi, tetapi juga inovasi sosial. 

Era hilirisasi melihat lahirnya program-program pengabdian masyarakat yang lebih relevan: edukasi literasi keuangan digital bagi UMKM, pendampingan digitalisasi pasar tradisional, sistem tata kelola lingkungan bagi desa wisata, hingga program pemberdayaan untuk kelompok rentan. Semua program ini muncul dari riset dan pendidikan, tetapi hasilnya berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Peradaban hilirisasi juga menghadirkan perubahan cara berpikir untuk seluruh elemen bangsa. Dalam dunia yang bergerak cepat, tidak mungkin lagi kita mengandalkan model pendidikan yang statis. Teknologi berubah setiap hari, ekonomi digital tumbuh pesat, dan industri membutuhkan talenta yang adaptif. 

Pendidikan harus merespon dengan cara yang sama cepatnya. Kurikulum harus fleksibel, pembelajaran harus berbasis studi kasus atau proyek, dan evaluasi harus menilai kompetensi bukan sekadar nilai. Mahasiswa di masa depan dituntut lebih kreatif, lebih inovatif, lebih kolaboratif. 

Mahasiswa yang terbiasa menyelesaikan persoalan-persoalan nyata sejak kuliah akan lebih siap memasuki dunia kerja atau dunia usaha. Mahasiswa memiliki pengalaman lapangan, portofolio nyata, jejaring kolaborasi, dan pemahaman mendalam tentang masalah sosial-ekonomi di sekitar mereka. Hal ini menjadikan lulusan era hilirisasi bukan sekadar pencari kerja, tetapi pencipta peluang.

Dari sisi ekonomi, hilirisasi pendidikan membawa potensi besar bagi pembangunan nasional. Bayangkan jika ratusan ribu mahasiswa setiap tahun tidak hanya lulus, tetapi juga membawa inovasi atau solusi baru. 

Bayangkan jika hasil-hasil riset kampus benar-benar diadopsi oleh industri lokal dan UMKM. Bayangkan jika setiap daerah memiliki ekosistem inovasi yang berakar dari perguruan tinggi setempat. Ini bukan lagi sekadar mimpi. Hilirisasi adalah jembatan yang mewujudkannya. 

Hilirisasi dapat memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, mendorong pemanfaatan teknologi digital, meningkatkan produktivitas UMKM, serta memperkecil kesenjangan pengetahuan antarwilayah. Ia dapat menjadi motor geliat ekonomi daerah, tempat di mana kampus tidak hanya memproduksi ilmu, tetapi juga memproduksi kemajuan.

Namun, tidak dapat dipungkiri, hilirisasi juga menghadapi banyak tantangan. Budaya akademik yang terlalu teoritis masih menjadi tembok besar. Banyak riset dilakukan hanya untuk memenuhi tuntutan administratif, bukan untuk memecahkan masalah. 

Pendanaan inovasi masih terbatas, birokrasi internal sering menghambat proses riset terapan, dan kolaborasi antara kampus dan industri belum sepenuhnya optimal. Ada pula tantangan terkait rendahnya literasi teknologi di sebagian kalangan, sehingga inovasi digital tidak selalu mudah diterapkan di semua sektor masyarakat.

Tantangan tidak seharusnya mematahkan semangat. Justru dari tantangan lahir kebutuhan untuk melakukan transformasi yang lebih radikal. Hilirisasi membutuhkan dukungan banyak pihak: pemerintah menyediakan kebijakan dan pendanaan, kampus yang berani berubah, industri yang mau membuka pintu kolaborasi, dan masyarakat yang siap menerima inovasi baru. 

Sumber: