Hilirisasi: Antara Transformasi Pendidikan dan Inovasi Sosial
Prof Mursalin Nohong, guru besar FEB Unhas.--
Strategi untuk memperkuat hilirisasi pun perlu diarahkan pada beberapa hal: memperkuat inkubasi startup di kampus, memperluas magang dan kerja sama industri, menciptakan kurikulum adaptif, meningkatkan pendanaan riset aplikatif, dan mendorong literasi teknologi di seluruh lapisan masyarakat. Di samping itu, diperlukan pula upaya membangun budaya inovasi—budaya yang mendorong keberanian mencoba, berkolaborasi, bereksperimen, dan tidak takut gagal.
Ketika seluruhnya berjalan sehingga hilirisasi bukan lagi slogan tetapi budaya. Hilirisasi menjadi peradaban—sebuah cara berpikir kolektif bahwa pendidikan harus menyatu dengan kehidupan.
Sebuah peradaban yang memandang mahasiswa bukan hanya sebagai peserta didik, tetapi sebagai agen perubahan. Sebuah peradaban yang menempatkan kampus sebagai pusat kemajuan sosial-ekonomi, bukan sekadar pusat gelar akademik. Sebuah peradaban di mana ilmu pengetahuan menjadi alat untuk memecahkan persoalan bangsa secara berkelanjutan.
Dalam peradaban hilirisasi, ilmu tidak lagi berhenti di ruang kelas, tetapi melintasi batas menuju desa, pasar, kampung nelayan, kantor pemerintah, pabrik, rumah tangga kecil, hingga layar ponsel masyarakat. Ilmu hadir dalam bentuk teknologi, aplikasi, strategi bisnis, inovasi sosial, program pemberdayaan, dan pemikiran kritis yang mempengaruhi kebijakan publik.
Inilah masa depan pendidikan Indonesia—masa depan yang lebih terhubung, lebih relevan, dan lebih bermartabat. Hilirisasi membawa pendidikan kembali ke tujuan sejatinya: menciptakan manusia yang mampu memajukan peradaban.
Pendidikan bukan lagi berhenti pada ijazah, tetapi pada dampak. Bukan lagi sekadar menghasilkan lulusan, tetapi menghasilkan perubahan. Bukan lagi mengajarkan pengetahuan, tetapi menghidupkan pengetahuan di tengah masyarakat.
Hilirisasi pada akhirnya mengajarkan bahwa ilmu adalah untuk kehidupan. Pendidikan adalah untuk kemajuan. Peradaban baru ini membutuhkan dosen, mahasiswa, pemerintah, industri, komunitas untuk bergerak bersama mengalirkan pengetahuan dari hulu ke hilir hingga memberi manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa.
Jika hilirisasi terus diperkuat, maka generasi cerdas tidak hanya terbentuk tetapi generasi yang mampu mengubah dunia. Sebuah peradaban baru yang lahir dari pendidikan, tumbuh dari kolaborasi, dan matang dari inovasi.
Saat peradaban ini berdiri kokoh, Indonesia akan memiliki sumber daya manusia yang tidak hanya siap menghadapi masa depan, tetapi mampu menciptakan masa depan. ***
Sumber:

