DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

AI Tidak Sedang Bermain Dadu

AI Tidak Sedang Bermain Dadu

Faisal Hamdan, Jurnalis dan peneliti independen--Dokumentasi pribadi

Oleh: Faisal Hamdan (Jurnalis dan Peneliti Independen)

Malam itu saya terpaku menatap layar ponsel di teras rumah. Tangan saya bergerak cepat membalas setiap pertanyaan tentang Semiotika Otonom di grup WhatsApp teman lama saya. Nama grup itu Malcom, sebuah komunitas kultural kecil yang selalu dekat dengan berbagai perbincangan keilmuan.

Diskusi malam itu berjalan panas. Di tengah percakapan, seorang teman  bernama Jojo, melempar sebuah tautan berita ke grup. Mata saya sempat menatapnya tajam, tetapi belum saya buka. Diskusi masih terlalu seru untuk dihentikan.

Setelah percakapan mulai mereda, barulah saya membuka tautan itu, sebuah foto muncul di layar. Foto seorang yang saya kenal baik, abang saya sendiri, Arie Samal. Judul tulisannya membuat saya tersenyum kecil “AI sedang bermain dadu.” Saya membacanya pelan-pelan, seperti seseorang yang membuka surat dari teman lama.

Di tengah tulisan itu saya menemukan nama saya sendiri disebut. Rasanya seperti sedang duduk dalam percakapan hangat, hanya saja kali ini saya belum sempat menjawabnya. Metafora abang Arie menarik. Bahkan, jujur saja, jauh lebih menarik daripada tumpukan file jurnal di laptop saya yang sering terasa kering dan berat.

Ia membayangkan kecerdasan buatan seperti seseorang yang melempar dadu berkali-kali. Kadang angka yang keluar tepat, kadang meleset. Dalam bayangan itu, jawaban AI hanyalah hasil kebetulan statistik. Tidak mungkin keluar sesuatu di luar angka yang sudah tertulis pada dadu itu sendiri.

Saya menutup artikel itu dengan satu pikiran yang sudah muncul di kepala. Saya sebenarnya sudah memiliki jawaban. Tetapi saya merasa tidak etis jika langsung menuliskannya tanpa memastikan bagaimana para peneliti AI menjelaskan cara kerja teknologi itu. Jika saya langsung menjawab, mungkin saya hanya sedang mengarang.

Saya lalu membuka halaman baru di Google dan mulai menelusuri berbagai jurnal. Pencarian saya akhirnya sampai pada salah satu jurnal ilmiah paling bergengsi di dunia: Nature, tempat para peneliti dari berbagai disiplin ilmu mempublikasikan temuan mereka.

Di sana saya menemukan sebuah artikel yang sangat terkenal. Artikel itu ditulis oleh tiga tokoh besar dalam dunia pembelajaran mesin: Yann LeCun, Yoshua Bengio, dan Geoffrey Hinton. Dalam tulisan mereka tentang deep learning, ketiganya menjelaskan sesuatu yang menarik.

Sistem pembelajaran mesin tidak sekadar mengingat data yang pernah diberikan kepadanya. Ia mempelajari struktur statistik dari data tersebut, lalu menggunakannya untuk menggeneralisasi pola ke situasi baru. Dengan kata lain, model AI tidak hanya menyalin contoh yang pernah ia lihat. Ia belajar hubungan di balik contoh-contoh itu. Di titik itulah saya merasa cerita tentang AI sebenarnya belum selesai.

Dalam tulisan abang Arie, dadu memiliki enam sisi, satu sampai enam. Apa pun yang terjadi, angka tujuh tidak mungkin muncul. Tetapi jika kita memahami AI hanya dengan analogi melempar dadu, kita akan terjebak selamanya dalam batas itu. AI tidak bekerja seperti tangan yang melempar dadu.

Ia bekerja seperti pikiran yang mengamati ribuan lemparan dadu sekaligus, lalu mencoba memahami pola di baliknya.

Bayangkan seseorang yang menyaksikan jutaan permainan dadu. Lama-kelamaan ia mulai melihat pola probabilitas, pola kombinasi, bahkan struktur permainan itu sendiri. Ketika pemahaman itu cukup dalam, ia tidak lagi sekadar menunggu angka yang keluar. Ia mulai memahami ruang kemungkinan yang tersembunyi di balik angka-angka itu.

Di titik itulah metafora dadu mulai berubah. AI tidak sekadar melempar dadu. Ia sedang mempelajari bentuk dadu itu sendiri. Fenomena ini juga pernah diteliti dalam studi tentang Large Langue Model. Dalam penelitian dari Google Research tentang apa yang disebut sebagai emergent abilities, para peneliti menemukan bahwa ketika ukuran model menjadi cukup besar, kemampuan baru dapat muncul yang sebelumnya tidak terlihat pada model yang lebih kecil. Kemampuan itu tidak diprogram secara langsung. Ia muncul dari kompleksitas hubungan pola yang dipelajari oleh sistem.

Seolah-olah dari enam angka pada dadu, sistem mulai membayangkan kemungkinan angka ketujuh. Tentu saja angka itu tidak benar-benar ada di permukaan dadu. Tetapi ia muncul dalam ruang pola yang lebih luas, dalam hubungan antar angka yang dipahami oleh sistem.

Sumber: