Mewaspadai Ancaman Tersembunyi Dibalik Financial Technology
Mursalim Nohong--
Oleh: Mursalim Nohong (Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin)
Ditengah euforia transformasi digital, financial technology atau fintech sering kali dikultuskan sebagai solusi terbaik dalam layanan keuangan. Alasannya karena cepat, praktis, efisien, dan makin dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Transaksi yang dulu harus dilakukan di kantor bank kini dapat diselesaikan hanya lewat telepon genggam tanpa antri. Orang bisa membuka rekening, membayar tagihan, meminjam dana, hingga berinvestasi tanpa harus berpindah tempat. Dalam banyak hal, fintech memang merepresentasikan kemajuan dan jawaban atas segala kebutuhan.
Dibalik seluruh kemudahan itu, ada ancaman tersembunyi dan sering kali jauh lebih berbahaya daripada gangguan sistem yakni: social engineering.
Jika selama ini publik kerap membayangkan kejahatan digital sebagai aksi meretas server atau membobol aplikasi, kenyataannya banyak kerugian justru lahir dari sesuatu yang lebih sederhana, yaitu manusia yang berhasil dimanipulasi. Di titik inilah perlu diakui bahwa dalam ekosistem keuangan digital, yang paling rentan sering kali bukan teknologinya, melainkan penggunanya.
Social engineering bekerja dengan cara yang tidak selalu rumit. Pelaku tidak harus menjadi peretas kelas tinggi atau memiliki kemampuan teknis yang luar biasa. Hanya cukup memahami cara manusia bereaksi terhadap rasa takut, rasa tergesa-gesa, atau simbol otoritas. Korban dibuat percaya sedang berurusan dengan petugas resmi, sedang menghadapi transaksi mencurigakan, atau sedang diminta menyelesaikan persoalan mendesak. Dalam suasana seperti itu, korban bisa dengan sukarela memberikan OTP, PIN, kata sandi, atau data penting lain yang seharusnya tidak pernah dibagikan (share).
Paradoks Fintech
Masalah ini menjadi sangat serius dalam dunia fintech karena layanan keuangan digital memang dibangun di atas prinsip kecepatan dan kemudahan. Pengguna dibiasakan untuk merespons cepat, mengklik cepat, dan memutuskan cepat. Semua dibuat sesederhana mungkin agar pengalaman pengguna terasa lancar. Tetapi justru pada titik inilah letak paradoksnya.
Semakin cepat orang dibiasakan bertindak, semakin sempit ruang untuk berhenti sejenak, berpikir, dan memeriksa apakah sesuatu itu benar atau tidak. Fintech yang mempermudah hidup, pada saat yang sama, juga dapat membuka ruang bagi manipulasi yang lebih halus.
Dalam praktiknya, seseorang menerima telepon dari pihak yang mengaku petugas bank dan diberi tahu bahwa rekeningnya sedang bermasalah. Orang lain menerima pesan WhatsApp yang mengatasnamakan layanan dompet digital dan meminta kode verifikasi untuk “pengamanan akun.”
Ada pula yang dikirimi tautan oleh nomor tak dikenal dengan alasan paket tidak bisa diproses, hadiah harus diklaim, atau dana harus diverifikasi. Modusnya mungkin berubah-ubah, tetapi polanya tetap sama yakni korban didorong untuk segera bertindak tanpa sempat berpikir panjang.
Keberhasilan social engineering menunjukkan satu hal yang sering luput dalam pembicaraan tentang keamanan digital bahwa manusia tidak selalu mengambil keputusan secara rasional (rational decision). Dalam kondisi panik, lelah, terburu-buru, atau merasa sedang berhadapan dengan pihak berwenang, seseorang bisa bertindak jauh lebih cepat daripada biasanya.
Pelaku sangat paham bahwa rasa takut sering lebih kuat daripada kehati-hatian. Dengan nada bicara yang meyakinkan, simbol institusi resmi, dan bahasa formal dapat membuat seseorang lengah. Artinya, ancaman ini bukan sekadar ancaman teknologi, tetapi ancaman psikologis.
Karena itu, pembahasan tentang fintech seharusnya tidak berhenti pada soal inovasi, efisiensi, dan perluasan layanan. Fintech memang penting sebagai sarana modernisasi ekonomi yang membuka akses lebih luas, membantu masyarakat yang sebelumnya kurang terjangkau layanan formal, dan mempercepat berbagai aktivitas ekonomi.
Sumber:

