DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

ecoenzyme: Langkah Kecil Warga Makassar untuk Dampak Ekologis Besar

ecoenzyme: Langkah Kecil Warga Makassar untuk Dampak Ekologis Besar

--

Oleh: Mashud Azikin

Esai Humaniora Ekologi dan Ekonomi Sirkular serta Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar 

 

Ada yang keliru dalam cara kita memperlakukan sampah. Kita menghabiskan banyak uang untuk mengangkutnya, menyediakan lahan untuk menimbunnya, dan membangun teknologi untuk mengatasi akibat yang ditimbulkannya. Sementara itu, bahan-bahan yang sesungguhnya masih memiliki nilai ekonomi justru dibuang begitu saja. Di pasar tradisional, sisa sayuran, kulit buah, dan bahan organik lainnya berakhir sebagai limbah yang membusuk. Kita menyebutnya sampah, padahal di dalamnya tersimpan sumber daya yang belum selesai dimanfaatkan.

 

Persoalan ini bukan semata-mata tentang kebersihan kota. Ia menyangkut cara kita membangun ekonomi, memperlakukan alam, dan menentukan masa depan peradaban. Selama pengelolaan sampah hanya berorientasi pada pengangkutan dan pembuangan, kita sesungguhnya sedang menjalankan ekonomi linear: mengambil, memproduksi, mengonsumsi, lalu membuang. Sebuah sistem yang menjadikan alam sebagai pemasok bahan baku sekaligus tempat menampung sisa aktivitas manusia.

 

Di tengah krisis iklim dan tekanan terhadap daya dukung lingkungan, cara berpikir semacam itu semakin kehilangan relevansinya. Kota tidak cukup hanya membangun armada pengangkut, memperluas tempat pembuangan, atau mengadakan kegiatan bersih-bersih. Kota membutuhkan keberanian untuk mengubah sampah menjadi sumber daya, mengembalikan material ke dalam siklus produksi, dan menciptakan nilai ekonomi dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai.

 

Di sinilah ecoenzyme menawarkan kemungkinan menarik. Bukan sebagai obat untuk seluruh persoalan persampahan, melainkan sebagai salah satu pintu masuk menuju ekonomi sirkular: sebuah pendekatan yang mempertemukan kepentingan ekologis, kreativitas sosial, dan peluang ekonomi.

 

Sampah dan Paradoks Ekonomi Kota

 

Pasar tradisional sesungguhnya menyimpan paradoks pembangunan perkotaan. Ia menjadi pusat perputaran ekonomi, tempat ribuan orang menggantungkan penghidupan, sekaligus salah satu sumber timbulan sampah organik yang cukup besar. Setiap hari, aktivitas perdagangan menghasilkan sisa sayuran, buah-buahan, dan bahan pangan yang tidak terjual atau tidak layak konsumsi.

Sumber: