Stadion Untia, Janji Politik, dan Warisan untuk Makassar

Selasa 01-09-2026,07:44 WIB
Oleh: Fuad

Identitas seperti itu tidak selalu lahir dari dokumen resmi. Ia tumbuh dari pengalaman bersama: suara tribun, pelukan setelah gol, tangis setelah kekalahan, dan teriakan ribuan orang yang untuk sesaat merasa menjadi satu.

 

Karena itu, ketika Stadion Mattoanging hilang, yang hilang bukan hanya sebuah bangunan. Makassar kehilangan salah satu ruang yang selama puluhan tahun menjadi rumah emosional bagi masyarakat dan PSM.

 

Dalam konteks itulah Stadion Untia memperoleh makna yang lebih besar.

 

Stadion ini bukan sekadar kumpulan beton, rumput, tribun, dan fasilitas olahraga. Ia membawa harapan agar Makassar kembali memiliki rumah sepak bola yang dapat digunakan oleh generasi sekarang dan generasi berikutnya.

 

Harapan publik tentu tidak dapat diukur hanya melalui angka dalam dokumen anggaran. Harapan tumbuh dari percakapan, janji, dan keyakinan bahwa pemerintah masih mendengar kebutuhan masyarakat.

 

Karena itu, ketika sebuah janji pembangunan mulai diwujudkan, yang patut dihargai bukan hanya proyeknya. Ada kepercayaan publik yang sedang dipertaruhkan.

 

Dalam konteks tersebut, Munafri Arifuddin sedang membangun hubungan antara janji dan kenyataan. Hubungan itu penting karena demokrasi tidak hanya membutuhkan suara rakyat dalam pemilihan, tetapi juga kepercayaan setelah pemilihan selesai.

 

Kita terlalu sering melihat politik yang piawai memproduksi janji, tetapi gagap menghadirkan hasil.

 

Kategori :