Stadion Untia, Janji Politik, dan Warisan untuk Makassar

Selasa 01-09-2026,07:44 WIB
Oleh: Fuad

Janji disampaikan menjelang pemilihan. Baliho dipasang, spanduk dibentangkan, pidato disampaikan. Setelah itu, waktu berjalan. Sebagian janji berubah menjadi program, sebagian menjadi rapat, sebagian menjadi dokumen, dan sebagian lainnya berhenti pada kalimat yang sudah terlalu sering kita dengar: masih dalam proses.

 

Karena itu, ketika sebuah janji mulai menemukan bentuknya, masyarakat berhak memberikan apresiasi.

 

Apresiasi tidak berarti menghentikan kritik. Sebaliknya, kritik tetap diperlukan untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai aturan, anggaran digunakan secara bertanggung jawab, dan hasil akhirnya benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat.

 

Pemerintahan yang sehat adalah pemerintahan yang dapat dikritik ketika keliru dan diapresiasi ketika berhasil.

 

Kita tidak membutuhkan kultus kekuasaan. Kita juga tidak membutuhkan sinisme yang membuat setiap keberhasilan dianggap tidak berarti.

 

Yang dibutuhkan adalah sikap kritis sekaligus adil.

 

Di luar persoalan janji politik, Stadion Untia juga memiliki arti penting sebagai ruang publik.

 

Stadion adalah tempat orang bertemu. Di tribun, sekat sosial dapat menjadi lebih tipis. Masyarakat dari berbagai latar belakang duduk berdampingan dengan alasan yang sama: mendukung tim yang mereka cintai.

 

Kategori :