Stadion Untia, Janji Politik, dan Warisan untuk Makassar

Selasa 01-09-2026,07:44 WIB
Oleh: Fuad

Jangan pula stadion hanya ramai ketika pertandingan berlangsung, lalu sepi ketika lampu pertandingan dipadamkan.

 

Sebab, sebuah warisan tidak dinilai dari kemegahannya ketika diresmikan. Warisan dinilai dari manfaat yang tetap dirasakan ketika generasi berganti.

 

Ukuran paling sederhana untuk melihat warisan seorang pemimpin adalah membayangkan keadaan kota beberapa puluh tahun setelah ia tidak lagi menjabat.

 

Namanya mungkin tidak lagi tercetak di baliho. Wajahnya telah digantikan oleh pemimpin berikutnya. Program-program pemerintahannya menjadi bagian dari catatan sejarah.

 

Namun, jika Stadion Untia masih berdiri, PSM masih bertanding, anak-anak muda masih berlatih, UMKM masih tumbuh, dan orang tua masih membawa anak-anaknya menonton pertandingan, maka manfaat pembangunan itu masih hidup.

 

Pada saat itu, seorang ayah mungkin berkata kepada anaknya, “Dulu, ada seorang wali kota yang berjanji membangun tempat ini.”

 

Lalu sang anak menjawab, “Untung dia menepatinya.”

 

Jika percakapan itu benar-benar terjadi beberapa puluh tahun mendatang, itulah bentuk warisan yang sesungguhnya.

 

Kategori :