Orang yang mencintai Makassar tidak semestinya hanya bertanya, “Apa yang bisa saya ambil dari kota ini?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang bisa saya tinggalkan untuk kota ini?”
Stadion Untia mungkin menjadi salah satu jawaban Munafri Arifuddin atas pertanyaan tersebut.
Jawaban itu kelak tidak lagi membutuhkan pidato. Beton akan berbicara. Rumput akan berbicara. Tribun akan berbicara.
Namun, yang paling penting adalah manusia yang menggunakan dan merasakan manfaatnya.
Sejarah politik Makassar akan terus berubah. Wali kota datang dan pergi. Partai politik menang dan kalah. Koalisi terbentuk dan bubar. Janji-janji baru akan terus bermunculan.
Namun, kota memiliki ingatan yang lebih panjang daripada politik.
Kota mengingat siapa yang membangun. Kota mengingat siapa yang merawat. Kota juga mengingat siapa yang hanya pandai berjanji.