DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Semiotika Otonom dan Pertengkaran yang Diinginkan Algoritma

Semiotika Otonom dan Pertengkaran yang Diinginkan Algoritma

Faisal Hamdan, Journalist dan Independent Researcher--Facebook

Oleh: Faisal Hamdan, Journalist/Independent Research

Pukul 03.00 dini hari, seperti pagi-pagi sebelumnya, saya terbangun. Rumah masih sunyi, hanya suara air mengalir dan burung yang terdengar menyatu dengan gelap. Saya keluar kamar, menyelesaikan rutinitas, lalu membangunkan istri. Tanpa banyak kata, ia menuju dapur. Beberapa menit kemudian, aroma jahe panas bercampur madu menyebar ke teras rumah.

Saya duduk sendiri. Hari masih gelap, matahari belum menunjukkan tanda-tanda hadir, udara dingin dan tenang mengantarkan saya ke momen di mana pikiran sering bergerak lebih jauh daripada tubuh.

Saya menyeruput jahe perlahan, melempar tatapan kosong ke langit, lalu sebuah ingatan muncul, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai rekaman. Saya teringat pada wawancara yang tersimpan di ponsel saya, tentang hubungan personal, tentang pertengkaran yang tampak sepele, tetapi terus berulang.

Saya membuka ponsel. Memutar kembali rekaman itu.

ER, seorang pria berusia 35 tahun yang tak pernah saya kenal sebelumnya, mengaku bahwa pertengkaran dalam hubungannya sering muncul bukan karena obrolan langsung, melainkan karena apa yang ia dan pasangannya lihat di media sosial. Sebuah like, sebuah story, sebuah potongan gambar yang lewat cepat, tetapi meninggalkan residu kecurigaan.

Saya tersenyum tipis, bukan karena lucu, melainkan karena pola itu terasa akrab. Istri saya bahkan pernah berada di titik yang lebih ekstrem, ia kerap menonton konten tentang ciri-ciri pasangan selingkuh, lalu tanpa sadar membangun kecurigaan itu kepada saya. Hampir persis seperti cerita ER.

Pikiran saya kembali pada pengakuan ER, ia tidak sedang membicarakan konflik besar, ia mengaku tidak pernah melakukan kekerasan, apalagi perselingkuhan nyata. Yang ada hanyalah tanda-tanda kecil yang terus muncul, berulang, dan perlahan menuntut penjelasan.

Dari satu wawancara itu, kegelisahan muncul. Bukan pada kisah ER semata, melainkan pada satu kalimat yang ia ucapkan hampir tanpa sadar:
“Kalau tidak ada media sosial, hubungan kami pasti lebih tenang.”

Sejak kapan ketenangan hubungan bergantung pada absennya sebuah sistem?

Rasa penasaran itu membuat saya melanjutkan. Saya berbincang dengan lebih banyak orang, total ada 13 pasangan. Nama mereka saya inisialkan, bukan untuk menyamarkan, tetapi karena kisah mereka saling menumpuk, membentuk satu cerita kolektif.

Sebagian besar mengatakan hal yang sama, bahwa pertengkaran lebih sering dipicu oleh apa yang terlihat di layar dibandingkan oleh percakapan tatap muka. Ada yang marah karena like di foto orang lain, ada yang cemburu karena story, ada pula yang mengaku bahwa standar hubungan hari ini diam-diam ditentukan oleh apa yang tampil di TikTok dan Instagram.

Beberapa orang berkata mereka tetap mendengarkan pasangan saat bertengkar. Namun selalu ada jeda, butuh waktu, bahkan berhari-hari. Karena yang dilawan bukan lagi ucapan pasangan, melainkan gambaran yang terlanjur hidup di kepala, gambaran yang algoritma telah pilihkan terlebih dahulu.

Menariknya, hampir tidak ada yang menyebut kata algoritma. Tidak ada yang berbicara tentang sistem rekomendasi, data, atau personalisasi. Semua berhenti pada pengalaman, marah, cemburu, dan lelah.

Namun justru di sanalah Semiotika Otonom bekerja paling halus.

Tanda-tanda itu tidak datang sebagai perintah. Ia tidak berkata, “curigailah.” ia hanya hadir, berulang, konsisten. Dan dalam dunia tanda, pengulangan selalu lebih kuat daripada argumen.

Media sosial tidak menciptakan pertengkaran secara langsung, ia menciptakan kondisi agar pertengkaran terasa wajar, ia menanamkan standar, membandingkan kehidupan, membingkai makna, dan semua itu terjadi tanpa perlu disepakati.

Dalam relasi personal hari ini, pertengkaran sering kali bukan lagi pilihan sadar dua individu. Ia adalah hasil dari sistem makna yang bergerak sendiri, bahkan bekerja sebelum percakapan dimulai.

Inilah yang disebut Semiotika Otonom, ketika tanda tidak lagi menunggu kehendak manusia, tetapi berjalan lebih dulu, membentuk prasangka, emosi, dan dugaan, makna tidak lahir dari dialog, melainkan dari paparan.

Banyak responden mengatakan, jika tidak ada media sosial, hubungan mereka akan lebih tenang. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan sesuatu yang mengganggu, bahwa konflik hari ini bukan sekadar persoalan karakter atau komunikasi, melainkan produk dari lingkungan tanda yang tidak netral.

Pagi itu, dengan jahe panas di tangan, saya menyadari satu hal, pertengkaran yang kita alami hari ini sering kali bukan karena kita ingin bertengkar, ia terjadi karena tanda-tanda di layar telah bekerja lebih dulu, mengatur cara kita merasa sebelum kita sempat berpikir.

Algoritma tidak memerintah kita untuk marah,m ia hanya memastikan bahwa selalu ada cukup bahan untuk kemarahan itu tersedia.

Dan ketika pertengkaran terus berulang, kita mulai mengira bahwa itulah watak hubungan modern. Padahal bisa jadi, itu adalah pertengkaran yang memang diinginkan oleh sistem yang hidup dari keterlibatan, dari emosi, dari reaksi.

Di titik inilah kebebasan perlu dibaca ulang. Bukan lagi sekadar apakah kita masih bisa memilih, tetapi apakah pilihan itu masih dimulai dari kita, atau sudah lebih dulu dimulai oleh tanda-tanda yang tidak kita sadari.

Semiotika Otonom tidak lahir dari ruang teori yang jauh, ia lahir dari pagi-pagi sunyi, dari jahe panas di teras, dari pasangan yang berkata pelan,
“Sebenarnya kami baik-baik saja… sampai layar itu menyala.”

 

Dan mungkin, di sanalah pertanyaan terbesar zaman ini berdiam:
bukan siapa yang salah dalam pertengkaran,
melainkan siapa yang pertama kali menginginkannya.(**)

Sumber: wawancara penulis dengan 13 pasangan